Nama Elohim Pencipta, Yang Esa, Yang Kudus dan Roh ada-Nya, yaitu YAHWEH [Kel 3:15, Yer 10:10, Yes 42:8, Ul 6:4-5] yang tertulis dalam TaNaKh [Torah, Neviim, Kethuvim] berbahasa Ibrani, telah diterjemahkan dalam naskah berbahasa Yunani [Septuaginta]. Dalam naskah Septuaginta, nama Yahweh dituliskan dengan “Kurios” [ kurios ] yang setara dengan “Adonai” [ ynda ]. Mengapa demikian? Karena sejak bangsa Israel pulang dari pembuangan Babilon [586 SM], ada suatu larangan yang ditetapkan oleh para rabbi Yahudi untuk tidak mengucapkan secara literal nama Yahweh. Sebutan penghormatan untuk menggantikan nama Yahweh adalah Adonai. Maka naskah Septuaginta yang diperuntukkan bagi komunitas Yahudi di Alexandria, Mesir yang tidak mengerti bahasa Yahudi, menuliskannya dengan Kurios.
Ketika Kabar Baik mengenai kehidupan, perkataan dan karya Sang Mesias yang lazim disebut dengan
“Euanggelion” atau “Injil” atau “Perjanjian Baru”, disalin kedalam bahasa Yunani dari bahasa Ibrani, maka setiap penyalin, saat menerjemahkan kedalam bahasa Yunani, mengikuti versi Septuaginta, yang menggantikan nama Yahweh dengan sebutan Kurios. Tata cara penyalinan seperti ini memberi dampak bahwa bangsa-bangsa goyim [non Yahudi], tidak lagi mengenal nama Yahweh. Namun demikian, dalam naskah Ibrani Aramaik versi
Shem Tob, Du Tillet, Crawford, Munster, nama Yahweh muncul dalam keseluruhan Injil. DR. James Trimm menerjemahkan naskah-naskah tersebut dan dikompilasi dalam
Hebraic Root New Testament Version. Dalam terjemahannya, nama Yahweh muncul sebanyak 210 dalam keseluruhan Kitab Perjanjian Baru.(f1) Berbagai terjemahan Kitab Suci diseluruh dunia, hampir dipastikan mengacu pada naskah Septuaginta, sehingga dalam menerjemahkan Kitab Suci TaNaKh maupun Besorah [Injil], tidak memunculkan nama Yahweh, kecuali dalam bagian-bagian perikop tertentu seperti yang dilakukan oleh
King James Version, Revised Standard Version, dll.(f2)
Namun demikian, tidak semua melakukan langkah yang serupa. Beberapa terjemahan Kitab Suci ada yang mengacu pada naskah Masoretik dan memunculkan nama Yahweh seperti yang dilakukan oleh
The Jerusalem Bible, The Interlinear NIV Kohlenberger, American Standard Version. Fakta-fakta diatas memberikan gambaran kepada kita bahwa ketika nama Yahweh tidak lagi dikenal, menyebabkan gereja kehilangan kembali terhadap akar Ketuhanannya yang berorientasi dalam Yudaisme yang berpusatkan pada Yahweh. Dengan demikian meratakan jalan bagi konsep Ketuhanan yang abstrak, spekulatif dan rasionalis.
Footnote:
f1: Teguh Hindarto, Bahasa Tuhan, ANDI Offset, 2004, hal 46-47
f2: Misalkan pada Keluaran 6:3 diterjemahkan “Jehovah” sementara di ayat lain tidak. Pertanyaannya : Jika dibeberapa ayat diterjemahkan Jehovah, mengapa yang lain tidak ?
PDT. TEGUH HINDARTO, MTH.
NAFIRI YAHSHUA MINISTRY
PO. BOX 122
KEBUMEN 54300
JAWA TENGAH – INDONESIA