APA ITU AKAR IBRANI?
Dalam tulisan berikut, penulis akan mengulas batasan “Kembali ke Akar Ibrani”, dalam dua sudut pandang. Dengan menggunakan pendekatan negasi dan konfirmasi. Dengan menggunakan batasan tersebut, diharapkan pembaca dapat melihat dari dua sisi, sehingga memperoleh pemahaman yang tepat dan proporsional.
Bukan Yudaisasi
Kembali ke Akar Ibrani, bukan bermakna melakukan proses Yudaisasi. Apa itu Yudaisasi? Yudaisasi bermakna pemaksaan pola beragama Yudaisme sebagaimana dipraktekan oleh beberapa sekte keagamaan Yahudi baik di zaman pra Mesias [Farisi, Saduki,dll] maupun paska Mesias [Orthodox, Reform, Konservatif]. Sikap-sikap melakukan Yudaisasi, terekam dalam Kisah Rasul 15:1:
“Beberapa orang datang dari Yudea ke Anthiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara disitu: Jikalau kamu tidak disunat menurut adat-istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan”.
Sikap beberapa sekte Farisi yang berusaha melakukan Yudaisasi ditentang oleh Rasul Paul dan Barnabas [Kis 15:2]. Persoalan ini akhirnya diselesaikan dalam sidang di Yerusalem dan menghasilkan beberapa keputusan penting untuk dilakukan oleh goyim [non Yahudi] setelah menerima Mesias [Kis 15:20-21]. Meskipun kembali ke akar Ibrani, mengadopsi nilai-nilai Yudaik, namun bukan bermakna secara telanjang melakukan Yudaisasi dalam berbagai bidang kehidupan orang beriman.
Bukan De-Yunanisasi
Ada kecenderungan kurang sehat akhir-akhir ini dikalangan komunitas yang mengklaim kembali ke akar Ibrani, yaitu menolak berbagai hal yang berbau Yunani dalam teks Kitab Suci. Penolakan berbagai pola penafsiran Kitab Suci yang bercorak Yunani yang telah secara berabad-abad diadopsi dalam berbagai seminari maupun sekolah Teologi. Menolak keberadaan Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani, mencerminkan amnesia sejarah dan kurangnya wawasan sejarah tentang keberadaan dan nilai historis teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani dalam memelihara iman dan mempertahankan keberadaan gereja saat ini.
Ketika Paul ada di Atena yang mewarisi nilai-nilai filsafat dan bahasa Helenis, dia memberitakan tentang Yahshua kepada filsuf-filsuf Atena. Ketika disampaikan mengenai kebangkitan orang mati dan Yahshua sebagai Mesias, beberapa orang menolak dan mengganggapnya memberitakan dewa-dewa asing [Kis 17:16-18] dan ditolak [Kis 17:32]. Namun sejumlah orang Yunani seperti Dionisius, majelis Areopagus serta wanita Yunani bernama Damaris menjadi percaya [Kis 17:34]. Apakah Dionisius dan Damaris akan berbagi imannya kepada teman maupun keluarganya dengan menggunakan bahasa Ibrani dan kitab suci berbahasa Ibrani? Tentu dia akan menggunakan bahasa Yunani dan paling tidak dia akan mengutip terjemahan kitab suci Septuaginta jika diluar Yerusalem. Orang-orang Yunani dan Romawi yang menjadi percaya, tentunya memiliki kerinduan untuk menerjemahkan kitab Perjanjian Baru dikemudian hari dalam bahasa Yunani dengan merujuk pada naskah berbahasa Ibrani-Aramaik.
Meskipun patut diakui bahwa Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani bukan merupakan teks yang mula-mula, dan didalam berbagai versi manuskrip teks diakui terdapat berbagai varian, namun tidak mengubah pokok iman mengenai siapakah Mesias tersebut dan kematian-Nya di kayu salib serta kebangkitan-Nya dari orang mati pada hari ketiga. Kesaksian berbagai manuskrip teks dari berbagai tahun dan abad yang berbeda, memperkokoh nilai historis dan validitas Kitab Perjanjian Baru. Ketangguhan yang teruji secara historis ini membuktikan pemeliharaan Elohim dan perkenan Elohim terhadap keberadaan teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Mengabaikan bahkan membuang begitu saja keberadaan teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani, secara tidak langsung telah mengkhianati sejarah terbentuknya komunitas umat beriman dibelahan dunia lainnya.
Yang kita perlukan bukan melakukan De-Yunanisasi terhadap teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani maupun berbagai metode hermeneutis warisan cara berpikir Yunani, namun melakukan sintesa dengan cara berpikir Hebraic, pola penafsiran Hebraic, sehingga menghasilkan struktur pemahaman yang holistik atau menyeluruh. Cara yang ditempuh oleh DR. David Stern, seorang Yahudi pengikut Mesias di Abad XX, dengan menerbitkan
Jewish New Testament Comentary, dengan menganalisis teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani dengan mengkombinasikan sudut pandang Greek dan Hebraic, sungguh menarik dan patut diapresiasi. Dalam catatan pengantarnyaa, beliau mengatakan :
“My translation of the New Testament from the original Greek into English in a way that brings out its essential Jewishness”.(f1)
Footnote:
f1: Jewish New Testament Publications, 1992, p.ix
PDT. TEGUH HINDARTO, MTH.
NAFIRI YAHSHUA MINISTRY
PO. BOX 122
KEBUMEN 54300
JAWA TENGAH – INDONESIA