Yudaisme pra Mesias maupun paska Mesias memiliki orang-orang bijaksana, rabbi-rabbi berpengaruh yang telah banyak memberikan kontribusi terhadap penafsiran, terhadap aplikasi Torah dalam kehidupan, dalam penyusunan Misnah, Gemara, Talmud yang berisikan berbagai Halakhah. Beberapa nama rabbi-rabbi terkemuka seperti Hillel, Shamai, Yokhanan Ben Zakkai, Akiva Ben Yosep [15-135 Ms], Yahda ha Nasi [135-219 Ms], Sholomo Yitshaqi [1040-1105 Ms], Moshe Ben Maimonindes [1135-1204 Ms], Moshe Ben Nakhman [1194-1270 Ms], Baal Shem Tov [1700-1760 Ms], Nakhman dari Breslov [1772-1810 Ms](f1)
Sepandai dan seberapa berpengaruhnya para rabbi tersebut, namun tidak ada alasan bagi kita untuk mengkultuskan dirinya dan pengajarannya serta berbagai tulisannya. Mengapa? Karena merekapun manusia yang terbatas dan terikat dengan konteks zamannya sehingga dapat terjatuh pada kesalahan penafsiran. Terbukti bahwa para rabbi Yahudi ketika Mesias hidup banyak yang menolak pengajaran-Nya dan menjadi dalang Mesias disalibkan. Beberapa tafsiran para rabbi diulas dalam beberapa buku dan dinilai keluar dari konteks. Beberapa buku yang mengulas kekeliruan penafsiran para rabbi seperti, Richard Longenecker(f2), A. Berkeley Mickelsen(f3), Milton S. Terry(f5). Sekalipun kembali ke akar Ibrani mempertimbangkan berbagai pendapat para rabbi Yahudi baik yang menolak Mesias maupun menerima Mesias, sebagai rujukan pendapat, namun bukan berarti essensi akar Ibrani ditentukan oleh sikap yang mengkultuskan para rabbi.
Footnote:
(f1): Tracey R. Rich, Sages & Scholars, 1996-1999, www.jewfaq.org
(f2): Biblical Exegesis in the Apostolic Period, Grand Rapids, Michigan : Wm. B. eerdmans Publishing Co, 1975, p.34
(f3): Interpreting the Bible, Grand Rapids: Wm. B. eerdmans Publishing Co., 1966, p. 24
(f4): Biblical Hermeneutik, Grand Rapids, Michigan : Zondervan Publishing House, 1983, p.608
PDT. TEGUH HINDARTO, MTH.
NAFIRI YAHSHUA MINISTRY
PO. BOX 122
KEBUMEN 54300
JAWA TENGAH – INDONESIA