Jumat, 10 September 2010  |  
Siapakah diantara kamu menarh hormat kepada YAHWEH, mematuhi suara hambaNya tetapi yang hidup dalam kegelapan dan tanpa cahaya apapun? Baiklah dia mempercayakan dirinya kepada nama YAHWEH dan berlindung kepada Elohimnya (Yes 50:10)
    ARTIKEL DETIL
04-07-2007
Akar Penopang Seri 7: Akar Ibrani Bukan Melakukan Secara Harfiah Tradisi Yahudi
 
 
Bukan melakukan secara hurufiah, tradisi-tradisi Yahudi yang diatur dalam Talmud
Sepulang dari pembuangan Babilonia, orang-orang Yahudi mulai memperbaharui hidup keagamaan mereka dibawah pimpinan Ezra dan Nehemia. Ada komitmen baru untuk mengasihi Yahweh dan memelihara Torah-Nya. Namun seiring demikian, terjadi suatu gerakan yang kuat yang cenderung bersifat legalistik formal sepeninggal Ezra dan Nehemia. Kecenderungan legalistik [memberi posisi berlebihan terhadap hukum agama daripada pemberi hukum itu sendiri, sehingga hukum agama menjadi beban dan bukan pengatur kehidupan] tersebut terekam dalam berbagai fatwa-fatwa para rabbi yang disusun dalam berbagai literatur Yahudi yang terentang dari Abad 1 Ms-4 ms.

Berbagai tulisan itu adalah Talmud yang merupakan kompilasi dari Misnah dan Gemara. Berbagai ajaran, pendapat, diskusi, peraturan agama, ketetapan para rabbi, disusun dalam berbagai lietarur diatas. Usia Talmud nampaknya setua usia bangsa Yahudi sejak pulang dari Babilonia. Secara sederhana, Misnah merupakan kumpulan Torah sebagai bentuk berbagai penjelasan terhadap Torah tertulis yaitu TaNaKh. Komentar terhadap Misnah dinamakan Gemara. Talmud merupakan kompilasi antara Misnah dan Gemara(f1). Talmud memiliki dua versi. Versi Babilonia dan versi Yerusalem. Talmud Babilonia lebih lengkap dan tebal. Misnah terdiri atas enam pokok bahasan [sedarim] yaitu “Zeraim” [mengenai benih tanaman], “Moed” [mengenai perayaan], “Nashim” [mengenai wanita], “Nezikin” [mengenai persoalan yang dilarang], “Kodashim” [mengenai perkara yang kudus], “Toharot” [mengenai ritual penyucian diri]. Disetiap topik bahasan [sedarim] terdiri dari banyak sub bahasan [masekhot]. Keseluruhannya ada 63 masekhot dalam Misnah(f2). Literatur-literatur Yahudi diatas sebenarnya sangat bermanfaat untuk menjadi petunjuk mengenai aplikasi atau pelaksanaan suatu ketetapan yang ditulis dalam TaNaKh. Dalam tradisi Islam, sejajar dengan keberadaan Hadits maupun Sunnah. Dengan mengacu pada literatur-literatur tersebut maka seseorang dapat menjaga mata rantai pengajaran dan tradisi aplikasi perintah Elohim.

Namun demikian, dalam Talmud pun ditemui sejumlah pernyataan yang tidak bisa begitu saja dilakukan oleh bangsa non yahudi yang percaya pada Mesias. Bahkan dalam Talmud pun terekam berbagai diskusi dan kutukan yang ditujukan terhadap goyim maupun terhadap pengikut Mesias Yahshua. Tidak dapat disangkal bahwa Talmud terkadang tidak selaras dengan Firman Elohim yang tertulis dalam TaNaKh. Beberapa contoh kami kutipkan. Talmud melarang pengucapan nama Yahweh sebagaimana tertulis dalam Misnah Sotah 7:6; Misnah Tamid 7:2, “…dalam tempat kudus seseorang mengucapkan Sang Nama sebagaimana tertulis namun diluar tempat kudus, diucapkan dengan bentuk euphemisme…”(f3) . Larangan ini tidak sejalan dengan perintah TaNaKh agar nama-Nya di panggil [1 Taw 16:26, Kel 3:15, Mzm 99:3].

Demikian pula Talmud berisikan kutukan-kutukan terhadap pengikut Yahshua. Beberapa buku telah mengulas kenyataan tersebut al. Prof. DR. Muhammad Asy Syarqawi, TALMUD : Kitab Hitam Yahudi Yang Menggemparkan,f(4) I.B. Branaites, Fadh at Talmud(f5). Kebencian terhadap pengikut Yahshua ha Mashiah pun terrefleksi dalam Shemone Esrei [delapan belas doa berkat]. Pada doa kesembilan belas [yang ditambahkan kemudian], ada kata-kata kutukan yang ditujukan pada pengikut Mesias yang dijuluki “ha Minim” [Bidat](f6) dan juga “Meshummed” [perusak](f7). Beberapa pernyataan dalam Talmud yang memojokkan pengikut Mesias merefleksikan penolakan para rabbi Yahudi di Abad I Ms terhadap Kemesiasan Yahshua. Perilaku rabbi-rabbi Yahudi tersebut telah terekam sejak dini dalam Kitab Matius 27:11-15 mengenai fitnah-fitnah yang dihembus-hembuskan para rabbi mengenai kematian dan kebangkitan Yahshua dari kematian. Fakta-fakta diatas menuntut kita untuk tidak mengkultuskan peranan Talmud sebagai sumber referensi penafsiran dan pengambilan keputusan keagamaan pengikut Mesias. Namun demikian, kita tidak dapat mengganggap remeh begitu saja nilai Talmud, karena didalamnya pun terekam banyak ulasan yang sangat kaya mengenai bagian-bagian Kitab Suci.

Footnote:
(f1): Baker’s Dictionary of Theology, Grand rapids Michigan 49506, Baker Books House, 1985, p. 511-512
(f2): Tracey R. Rich, Torah, 1995-1999, www.jewfaq.org
(f3): DR. James S. Trimm, Nazarenes & The Name of YHWH, 1997, www.nazarene.net
(f4): Jakarta: SAHARA Publishers, 2004, hal 239-243
(f5): Dar an-Nafais, Beirut
(f6): Nazarene : Definition & History, Catholic Encylopedia Electronic Version. New Advent, Inc. 1998, www.newadvent.org/eathen
(f7): DR. Michael Schiffman, Return of the Remnant: the Rebirth of Messianic Judaism, Baltimore, Maryland : Lederer Messianic Publishers, 1990, p.13


PDT. TEGUH HINDARTO, MTH.
NAFIRI YAHSHUA MINISTRY
PO. BOX 122
KEBUMEN 54300
JAWA TENGAH – INDONESIA
 
Komentar terhadap Artikel ini dapat Anda kirim ke komentar@messianic-indonesia.com
Jangan lupa untuk mencantumkan Judul Artikel ini dalam komentar Anda

Anda juga dapat berpartisipasi dalam situs ini
dengan mengirimkan Artikel anda ke redaksi@messianic-indonesia.com
--- tguh ---
Shalom Alaika !!!
Selamat datang,

selamat bergabung di komunitas Messianic Indonesia.
Semoga website ini dapat menjadi berkat bagi saudara.

 

©2007 Messianic-Indonesia Media Team - All Rights Reserved  
Terimakasih Bapa atas kesempatan yang telah Engkau berikan untuk membangun Situs ini.
Pakailah Situs ini untuk memasyurkan dan memuliakan nama-Mu. Amin

Saran dan Kritik:
redaksi@messianic-indonesia.com