SERI: REKONSTRUKSI KEKRISTENAN DAN KRISTEN REKONSTRUKSI
Jika kita membuka situs internet atau mencari kata
“Mesianik” dalam mesin pencari “Google”, maka akan terdapat ratusan bahkan ribuan alamat situs internet yang bersifat
“Mesianik” dan
“Sacred Name Movement” . Persoalannya adalah, siapakah atau apakah
“Mesianik” dan
“Sacred Name Movement” itu?
Fenomena Mesianik Yudaisme [Messianic Judaism] adalah suatu kebangkitan spiritual yang terjadi dikalangan unsur-unsur Yudaisme dan Bangsa Yahudi yang mulai merespon ajaran Yahshua [Aram, ‘Yeshu’, Greek, ‘Iesous’, Ind, ‘Yesus’] Sang Mesias yang dijanjikan namun tidak menyebut diri mereka sebagai Kristen dan Gereja dan mereka tetap memelihara gaya hidup dan tata ibadat Yudaisme, namun dalam terang ajaran Yahshua Sang Mesias. DR. Michael Shiffman mendefinisikan Mesianik Yudaisme sebagai:
“Messianic Jews are physical descendants of the patriarchs, being Jewish by birth, but are not adherents to the authority of rabbinic tradition”(f1)
[Mesianik Yudaisme adalah keturunan para leluhur secara jasmani, yang menjadi Yahudi melalui kelahiran namun tidak mengikuti otoritas tradisi kaum rabinik]
Sementara itu DR. David Stern memberikan definisi sbb:
“A person who was born Jewish or converted to Judaism, who is genuine believer in Yeshua, and who acknowledge his Jewishness”(f2) [Seseorang yang dilahirkan menjadi seorang Yahudi atau masuk ke dalam agama Yahudi, yang beriman kepada Yeshua serta mengakui keyahudian Yeshua]
DR. John Fischer memberikan deskripsi mengenai Mesianik Yudaisme dengan mengatakan:
“The convictions of these congregations are uniqe. They are convinced that they can believe in Jesus, be thoroughly biblical, and yet authentically Jewish. They affirm Jesus, as Messiah, Savior and Lord of the universe. They adhere to the entire Bible as the inspired Word of God and refuse to do anything contrary to its teachings. Thy feel a kinship and commitment to the entire body of the Messiah. Yet they express their faith, lifestyle and worship in Jewish form and in Jewish ways”(f3)
[Keyakinan kumpulan jemaat ini adalah unik. Mereka mengakui bahwa mereka dapat mempercayai Yesus sesuai Kitab Suci, namun yang secara otentik adalah seorang Yahudi pula. Mereka menyetujui bahwa Yesus sebagai Mesias, Juruslamat dan Tuan atas alam semesta. Mereka menerima keseluruhan Kitab Suci sebagai Firman Tuhan yang diilhamkan dan menolak segala sesuatu yang bertentangan ajaran-Nya. Mereka merasakan suatu kekeluargaan dan kesetiaan terhadap seluruh anggota tubuh Mesias. Namun mereka mengekspresikan iman mereka, gaya hidup mereka dan ibadah mereka dalam bentuk dan tata cara Keyahudian]
Dari tiga definisi di atas, kita mendapat
tiga karakteristik umum dan khas dari Mesianik Yudaisme, yaitu: Pertama, suatu pergerakan spiritual dikalangan komunitas Yahudi [bangsa] dan Yudaisme [agama]. Kedua, mereka beriman pada Yahshua sebagai Mesias dan menerima TaNaKh dan Brit Khadasha [Perjanjian Baru], sebagai kitab suci yang diilhamkan Ruakh ha Kodesh. Ketiga, mereka tetap mempertahankan gaya hidup, tradisi dan kebudayaan luhur Yahudi yang dipelihara berabad-abad, sebagai warisan kebudayaan suatu bangsa.
DR. Michael Schiffman membagi sejarah pergerakan Mesianik Yudaisme menjadi “Sejarah Mesianik Yudaisme Kuno” yang berakar pada Abad I Ms yang bersumber dari ajaran Yahshua dan para murid-murid-Nya [talmidim] dan “Sejarah Mesianik Yudaisme Modern”(f4) yang berakar pada Abad XIX di Eropa. Pergerakan Mesianik Yudaisme modern di awali oleh munculnya organisasi The Hebrew Christian Alliance of Great Britain, yang didirikan pada tahun 1866. Dalam konstitusinya, mereka mengumumkan demikian:
“Let us not sacrifice our identity. When we profess Christ, we do not cease to be Jews; Paul, after his conversion, did not cease to be a Jew; not only Saul was, but even Paul remained, a Hebrew of the Hebrews. We cannot and will not forget the land of our fathers, and it is our desire to cherish feelings of patriotism… As Hebrews, as Christians, we feel tied together; and as Hebrew Christians, we desire to be allied more closely to one another”(f5)
[Janganlah kita mengorbankan identitas kita. Ketika kita mengakui Kristus, janganlah kita berhenti menjadi seorang Yahudi; Paul, beberapa waktu setelah pertobatannya, tidak berhenti menjadi seorang Yahudi; Bukan hanya Saul bahkan Paul tetap sebagai orang yang lebih Ibrani dari orang Ibrani. Kita tidak dapat dan tidak akan melupakan tanah air orang tua kita, inilah kebanggaan kita yaitu menghargai perasaan patriotisme…entahkan sebagai orang Ibrani entahkan sebagai orang Kristen, kami merasa terikat bersama; dan sebagai orang Kristen Ibrani, kami ingin bersekutu lebih dekat satu dengan lainnya]
Kemudian pada tahun 1915 didirikanlah
The American Hebrew Christian Alliance. Kemudian Tahun 1925 didirikanlah
the International Hebrew Christian Alliance. Penggerak awal dari Mesianik Yudaisme adalah Joseph Rabinowitz. Eric Gabe melukiskan pelayanan Rabinowitz sbb:
“Rabinowitz continued to observe, even as a Hebrew Christian, a number of Old Testament comandments, such as the sabbath, circumcision and the Passover. He thus became the founder of the Hebrew Christian movement in Bessarabia, which he called
The Community of Messianic Jews, Sons of the New Covenant, in Hebrew, Yehudim Mesichim Bney Brit Hachadashah”(f6)
[Rabinowitz tetap melanjutkan memelihara – meskipun sebagai orang Kristen Ibrani – yaitu sejumlah perintah dalam Perjanjian Lama, seperti sabat, sunat dan Pesakh. Selanjutnya dia menjadi pendiri gerakan Kristen Ibrani di Bessarabia, yang disebut dengan Komunitas Mesianik Yahudi Putra Perjanjian Baru yang dalam bahasa Ibrani,
Yehudim Mesichim Bney Brit Hachadashah]
Dibagian lain bukunya, Eric Gabe memberikan deskripsi mengenai tempat peribadatan yang dibangun oleh Rabinowitz sbb:
“The House of Prayer…approximated…the appearance of Synagogue rather than that of a Church. In the photograph, Rabinowitz stands in the pulpit holding a complete copy of the Bible in Hebrew. Behind him hangs a menorah…just as in any Synagogue…The photograph shows some of the Hebrew texts displayed in his House of Prayer. The text on his left contains the hebrew name of Jesus, namely YESHUA…Separated on the right…[is] the Aron Kodesh-The Holy Ark-within which the sacred scrolls of the Bible are kept”(f7)
[Rumah doa…kira-kira…seperti berbentuk Sinagog dibandingkan dengan bangunan Gereja. Dalam foto, nampak bahwa rabinowitz berdiri dengan menggenggam ujung salinan Kitab Suci dalam bahasa Ibrani. Di sampinya tergantung sebuah menorah…sebagaimana layaknya di Sinagog…foto yang ditunjukan itu memperlihatkan beberapa teks Ibrani dipertontonkan di dalam rumah doanya. Teks itu terdiri dari nama Yesus dalam bahasa Ibrani, yaitu YESHUA…terpisah di sebelah kanan [yang adalah] Aron Kodesh – Tabut Suci – yang di dalamnya tersimpan dengan rapih, gulungan Kitab Suci]
A.E. Thomson dalam bukunya, A Century of Jewish Missions, pada tahun 1902 melaporkan berbagai komunitas Mesianik Yudaisme dengan istilah “
Hebrew Christian” di Eropa, Inggris, Eropa. Thomson melaporkan mengenai aktivitas The Hebrew Christian Assembly yang terbentuk pada tahun 1898. Kemudian Abraham Levi pada tahun 1894 mendirikan komunitas Mesianik(f8). Dalam deskripsi Schiffman, dilaporkan bahwa berturut-turut tumbuh komunitas Mesianik Yudaisme diberbagai tempat(f9) al. Pada tahun 1905 didirikanlah komunitas “
Hebrew Christians” di Baltimore, Maryland di bawah bantuan Gereja Presbyterian. Komunitas ini kelak berganti nama menjadi Emmanuel Messianic Conggregation. Pada tahun 1930, berdiri sebuah komunitas Mesianik di Chicago dan telah berganti nama menjadi Adat Hatikvah. Kemudian tahun 1940-an dan 1950-an, seorang bernama Lawrence Duff-Forbes membuka
Messianic Conggregation di Los Angeles. Mereka beribadat pada hari sabat, merayakan tujuh hari raya dengan liturgi Yahudi. Pada tahun 1950-an denominasi Presbyterian mengembangkan komunitas Mesianik keempat di Los Anggeles, setelah sebelumnya yaitu
Adat HaTikvah di Chicago,
Emmanuel Messianic Conggregation di Baltimore dan
Beth Messiah di Philadhelphia. Namun komunitas di Los Anggeles ini tidak bertahan lama. Terjadi perkembangan luar biasa pada tahun 1970. Shiffman mensinyalir ada sekitar seratus lima puluh jemaat Mesianik diseluruh dunia(f10) dan ada tiga organisasi penting yang berkaitan bersama, yaitu:
the Union of Messianic Jewish Congregations [UMJC], the Fellowship of Messianic Congregations [FMC], the International Alliance of Messianic Congregations and Synagogues [IAMCS] . Meskipun ada beberapa perbedaan antara “Hebrew Christians” dan “Messianic Jewish”, namun menurut Sciffman itu hanya dalam hal “respect of affiliation” [kebergabungan](f11). Jika “Hebrew Christians” bergabung dibawah gereja-gereja Protestan atau Presbyterian, maka Mesianik Yudaisme terlepas dari ketergantungannya terhadap gereja Protestan atau Presbyterian, dan mereka tetap memelihara gaya hidup sebagai orang Yahudi.
Dari deskripsi di atas, kita dapat memiliki sedikit gambaran mengenai latar belakang kemunculan fenomena Mesianik Yudaisme.
Secara historis, gerakan yang muncul dikalangan orang Yahudi yang beriman kepada Yahshua sebagai Mesias, adalah gerakan yang baru muncul pada Abad XIX, meskipun secara teologis memiliki akarnya pada Abad I Ms, saat pelayanan Yahshua dan rasul-rasul-Nya yang merupakan orang-orang Yahudi. Karena gerakan ini baru muncul di Abad XIX, maka kedewasaan teologi dan warisan kebudayaanya masih berkembang dan belum menciptakan suatu kebudayaan baru yang mempengaruhi suatu peradaban. Berbeda dengan “Gereja Kristen” [sebutan bagi Qahal Mesianik yang telah terlepas dari akar Ibrani, sejak Abad II Ms sampai sekarang], baik itu “Katholik”, “Orthodoxs”, “Protestan”, “Baptis”, “Advent”, “Pentakosta”, “Kharismatik” yang telah menciptakan suatu peradaban khas, baik di Eropa, Amerika, Asia dan Timur Tengah.
Berbeda dengan fenomena “Mesianik Yudaisme”, maka fenomena “Sacred Name Movement”, merupakan suatu pergerakan dikalangan Eropa dan Amerika yang memfokuskan pada pemulihan nama Yahweh dalam terjemahan Kitab Suci. Dalam beberapa tingkatan tertentu, komunitas “Sacred Name Movement” juga mengembangkan ajaran, hingga melakukan rekonstruksi dengan mengupayakan suatu ajaran yang berusaha mencari sumber akar Ibrani, tanpa meninggalkan kebudayaan mereka sebagai orang Amerika dan Eropa. Organisasi Yahweh New Covenant Assemblies [YNCA] sebagai salah satu komunitas penggerak pemulihan nama Yahweh, dalam salah satu artikelnya yang berjudul “Sacred Name Movement History”, menjelaskan sbb:
“The Sacred Name Movement began in the 1930's among the Church of G-d, 7th Day members who pondered the question of Proverbs 30:4, "What is His name and His Son's name if you can tell?" The Church of G-d, 7th Day is a Sabbath-keeping group, which came out of the Millerite movement of 1844, as did the 7th Day Adventists. Up to that time, there was little teaching or discussion about the return of the Messiah. The general understanding was that upon dying, one went either to heaven or hell, or in the case of the Roman Church, to purgatory. Those who became known as Millerites came from various religious denominations including the 7th-Day Baptists. Most churches in Christianity, almost with one voice, taught that the Son's name was Jesus. What about the Father's name? Did not the Son say He came in His Father's name, and would not His name be much the same or very similar?(f12)
[Gerakan Pemulihan Nama Kudus, dimulai pada tahun 1930-an dikalangan anggota Church of G-d 7th Day, [Gereja Tuhan Hari Ketujuh] yang merenungkan pernyataan dalam Amsal 30:4, “Siapakah yang naik ke sorga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi?
Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu!”
Church of G-d 7th Day, [Gereja Tuhan Hari Ketujuh] adalah orang-orang yang memelihara dengan setia ibadat Sabat, yang bermula dari gerakan Millerite di tahun 1844, sebagaimana yang juga dilakukan oleh 7th Day Adventists [Adven Hari Ketujuh]. Pada waktu itu, hanya sedikit orang yang membicarakan mengenai kembalinya Sang Mesias. Pemahaman umum pada waktu hanya menjelaskan, bahwa jika seseorang meninggal, mereka akan masuk Sorga atau Neraka, atau pada umumnya di Gereja Katholik, masuk api penyucian. Mereka yang dikenal sebagai kaum Millerites, berasal dari berbagai denominasi termasuk 7th Day Adventists [Adven Hari Ketujuh]. Kebanyakan gereja sepakat mengajarkan bahwa nama Putra-Nya adalah Yesus. Namun siapakah nama Bapa-Nya? Bukankah Sang Putra telah mengatakan bahwa diri-Nya datang atas nama Bapa-Nya? Dan apakah mungkin nama-Nya tetap sama atau sangat sama?
Dari pemaparan singkat kedua fenomena di atas, nampak jelas perbedaannya. Jika
“Mesianik Yudaisme” merupakan sebuah pembaruan teologi dan ibadah di kalangan orang yahudi yang beragama Yudaisme, dengan mempertahankan corak budaya dan berbagai pandangan rabinik, maka fenomena
“Sacred Name Movement” merupakan suatu pembaruan yang berasal dari kalangan Advent dan Baptis, yang menitik beratkan pada eksistensi dan penggunaan nama Yahweh, sekalipun berbagai kebenaran lain yang disosialisasikan komunitas Mesianik Yudaisme, tetap diadaptasi dalam batas-batas tertentu.
Footnote:
(f1) Return of the Remnant: the Rebirth of Messianic Judaism, Baltimore, Maryland: Lederer Messianic Publishers, 1996, p. 23
(f2) Messianic Jewish Manifesto, Clarksville, Maryland: Jewish New Testament Publications, 1991, p. 20
(f3) Why Messianic Judaism, dalam Enduring Paradoxs, Baltimore, Maryland: Messianic Jewish Publishers 2000, p. 8
(f4) Op. Cit., Return of the Remnant, p. 9-34
(f5) Ibid., p. 26
(f6) The Revd. Eric S. Gabe, The Hebrew Christian Movement in Kishineff, International Messianic Jewish [Hebrew Christian] Alliance, No 3, Vol LX, p.87
(f7) Ibid., p. 88-89
(f8) Op.Cit., Return of the Remnant, p. 29-30
(f9) Ibid., p. 31-33
(f10) Ibid., p. 33
(f11) Ibid., p.34
(f12) www.ynca.com
PDT. TEGUH HINDARTO, MTH.
NAFIRI YAHSHUA MINISTRY
PO. BOX 122
KEBUMEN 54300
JAWA TENGAH – INDONESIA