SERI: REKONSTRUKSI KEKRISTENAN DAN KRISTEN REKONSTRUKSI
Bagaimana kedua pergerakan itu muncul di Indonesia? Ternyata, kedua fenomena keagamaan tersebut di atas turut mengimbas dikalangan gereja-gereja maupun komunitas persekutuan doa serta individu-individu di Indonesia. Fenomena “
Sacred Name Movement” ternyata lebih dahulu masuk ke Indonesia dibandingkan fenomena “
Mesianik Yudaisme”. Sayangnya, fenomena “
Sacred Name Movement” masuk ke Indonesia dalam suasana “konflik teologis yang berkepanjangan” dan menimbulkan prasangka-prasangka teologis yang tidak dapat dikompromikan diantara gereja-gereja di Indonesia, antara yang menyambut gerakan ini dan yang menolak pergerakan ini.
Dalam makalah yang saya sampaikan dalam pertemuan penerjemahan Kitab Suci di Wisma Kinasih, saya menjelaskan secara singkat mengenai sejarah pergerakan pemulihan nama Yahweh di Indonesia sbb:
“Gerakan Pemulihan Nama Yahweh di Indonesia terbagi dalam empat gelombang. Gelombang pertama adalah periode tahun 1970-an. Gelombang kedua adalah periode tahun 1980-an. Gelombang ketiga adalah periode tahun 1990-an. Gelombang keempat adalah periode tahun 2000 dan selanjutnya”(f1)
Karakteristik Gerakan Pemulihan Nama Yahweh periode tahun 1970-an adalah bersifat personal dan pragmatis, artinya hanya dialami oleh beberapa pribadi dan diaplikasikan dalam beberapa kegiatan rohani. Sejumlah nama dapat dideretkan al., kedua kakak beradik Pdt. Daniel Nur Azis Antono dan Pdt. Sabbath Aenul Abiyah dari Gerja Isa Al Masih di D.I. Yogyakarta. Pengalaman kerohanian kedua kakak beradik dalam mendengar suara Yahweh, menuntun mereka melaksanakan kebaktian kebangunan rohani dan kesembuhan Ilahi, dengan topik “Tuhan Jesus adalah Tuhan Jehuwah Yang Maha Kuasa”. Aktivitas mereka dihentikan dan dibatasi oleh gereja-gereja di Yogyakarta.
Karakteristik Gerakan Pemulihan Nama Yahweh yang terjadi pada periode tahun 1980-an masih bersifat sporadis dan personal pragmatis. Sejumlah nama dapat disebut, yaitu Pdt. Leo dan Yvoune Setzepfand dari gereja Bethel Indonesia Cibunar [sekarang Gereja Kristen Alkitab Indonesia].
Karakteristik Gerakan Pemulihan Nama Yahweh pada periode tahun 1990-an lebih bercorak kritis dan berbobot kajian teologis argumentatif. Gerakan pemulihan yaang terjadi pada tahun 1990-an terbagi menjadi dua sub, yaitu tahun 1990-an awal dan tahun 1990-an akhir. Pada periode awal sejumlah nama terlibat dalam pergerakan ini, al. Pdt. Benyamin Obadyah dari Gereja Bethel Indonesia, Bintaro. Lalu Pdt. Deny pantouw dari Gereja Kristen Rahmani Indonesia. Sementara itu pada periode akhir, muncul Ev.dr. Suradi dari Pusat Latihan Pelayanan [PLP] “Nehemia”. Beliau menerbitkan traktat atas nama “Beth Yeshua ha Mashiah”, dengan judul serial, “Siapakah Yang Bernama Allah itu?”. Berbagai traktat yang diterbitkan dr. Suradi menimbulkan kontroversi tidak berkesudahan, disamping berbagai respon positip dari kalangan gereja-gereja di Indonesia. Beliau juga menerbitkan “Kitab Suci Torat & Injil 2000”, yang menuai protes dari Lembaga Alkitab Indonesia dan gereja-gereja, sehubungan dengan hak cipta.
Melalui traktat yang disebarluaskan, beberapa gembala sidang dan aktivis Kristiani mulai merespon pergerakan ini dan terlibat dalam pengkajian dan pemberitaan. Sejumlah nama dapat disebut al., Pdt Teguh Hindarto, dari Gereja Kristen Jawa di Tengahan, Kebumen [sekarang telah menggembalakan di Gereja Alkitab Injili Nusantara “Nafiri Yahshua”], lalu Pdt. Lukas Sutrisno dari Gereja Bethel Indonesia “Alfa Omega”, Magelang [sekarang Gereja Alkitab Injili Nusantara “Alfa Omega”]. Lalu Pdt. Devon Reynaldi dari Gereja Kristen Alkitab Indonesia, kemudian Pdt. Yakub Sulistyo dari Gereja Bethel Indonesia, Ungaran [sekarang Gereja Pimpinan Roh Kudus], juga Pdt. Remidi panggabean dari Gereja Penyebaran Injil Indonesia.
Sedangkan gerakan pemulihan di awal tahun 2000, lebih bersifat akademis, teologis, informatif dan konsolidatif. Tercatat berbagai seminar, penerbitan buku, penyebarluasan VCD dan berbagai peralatan teknolog dilibatkan dalam pemulihan nama Yahweh. Tercatat berbagai nama diperiode tahun 2000 adalah: Pdt. [Alm] Yesaya Heri dari Gereja Pentakosta Serikat di Semarang [sekarang Gereja Alkitab Injili Nusantara], Pdt Paulus Miskan dari Gereja Jemaat Kristen Indonesia [sekarang Gereja Alkitab Injili Nusantara], Pdt. Carlos Coesoy dari Gereja Bethel Tabernakel Banyuwangi, serta Pdt. Jahja Iskandar dari Gereja Bethel Jakarta, Pdt Petrus Effendi dari Gereja Utusan Pentakosta Indonesia [sekarang Gereja Alkitab Injili Nusantara], Pdt. Johan Mawati, Pdt Nico Sumolang dari Gereja Pimpinan Roh Kudus Manado.
Sampai tahun 2007, sudah tercatat banyak nama, organisasi gereja yang tercatat merespon pergerakan pemulihan nama Yahweh, yang tidak bisa disebutkan satu persatu di sini. Nama mereka turut mengharumkkan sejarah pergerakan pemulihan nama Yahweh.
Fenomena “
Sacred Name Movement” di Indonesia, kemudian berkembang ke arah fenomena “
Mesianic Judaism”. Mereka yang terlibat, pada umumnya adalah dari kalangan gereja-gereja yang dahulu terlibat dari pemulihan nama Yahweh. Secara kasar, pergerakan Mesianik di Indonesia, belum begitu merata di Indonesia. Beberapa tokoh yang saat ini mendalami dan terlibat aktif dalam berbagai pengkajian, seminar maupun perayaan ibadah al., Benyamin Obadyah [Jakarta], Teguh Hindarto [Kebumen], Bernis [Jakarta], Yoshua Bambang [Yogyakarta], Heri [Yogyakarta], Paulus Miskan [Yogyakarta]. Dibelakang nama-nama tersebut masih ada sederet nama yang sedang menekuni pergerakan Kemesianikan seperti Paulus Birama [Semarang], Iman Sudibyo [Semarang], Gideon Ruhul Kail [Jakarta], dll.
Sejak Tahun 2006, pergerakan pemulihan Nama Yahweh yang sekarang berkembang menjadi pemulihan Kemesianikan, dapat dipetakan berdasarkan karakteristik penekanannya, adalah sbb: (f2)
Komunitas Yahweh only
Mereka yang dikategorikan sebagai “
Yahweh only”, nampaknya memahami gerakan ini sebagai suatu bentuk memperjuangkan penggunaan nama Yahweh dalam terjemahan Kitab Suci, dalam berbagai kotbah di mimbar rumah ibadah, dalam berbagai tulisan-tulisan. Seiring dengan itu, penolakkan terhadap penggunaan nama Allah dalam tradisi Kristiani di Indonesia.
Mereka sangat bergiat membuat literatur dalam bentuk traktat, brosur, buku penjelasan, dll untuk meyakinkan orang-orang Kristen di Indonesia untuk menolak keberadaan nama Allah dan pentingnya penggunaan nama Yahweh. Tidak terbersit untuk memperluas makna dan aplikasi perjuangan penggunaan nama Yahweh dalam konteks yang lebih luas, yaitu dalam pokok iman, teologi, tata ibadah dan etika. Yang penting semua pendeta, atau organisasi gereja yang digembalakannya dan para pimpinan serta pengajar sekolah teologi Kristen telah menyadari dan menggunakan nama Yahweh, maka bagi mereka misi tersebut telah selesai.
Komunitas Back to Hebraic Root
Berbeda dengan kelompok pertama, kelompok yang dikategorikan sebagai “Back to Hebraic Root” adalah mereka yang concern [menaruh perhatian] terhadap persoalan penelusuran historis terhadap asal-usul Kekristenan atau akar Kekristenan yang berakar pada Yudaisme. Kelompok ini menekankan pemulihan akar ibrani yang diekspresikan dalam pokok iman, tata ibadah, teologi, etika praktis. Meskipun demikian, dalam kelompok ini ada begitu banyak keragaman pemahaman dan sikap terhadap isu-isu teologis tertentu. Namun secara kasar dapat dikategorikan menjadi beberapa sub kategori sbb:
Import pemahaman Back to Hebraic Root
Kelompok ini memiliki visi dan kerinduan untuk memulihkan akar Ibrani Kekristenan dalam pengakuan iman, tata ibadah dan etika praktis. Namun mereka sekedar “mengimport” pemahaman dan aktualisasi dari fenomena Messianic Judaism yang melanda wilayah Amerika, Eropa, Asia dan Afrika serta Timur Tengah, yaitu fenomena pemulihan tata ibadah pengikut Mesias dari kalangan Yahudi yang tidak mau menyebut diri mereka “Kristen” melainkan “Mesianic Judaism”.
Kelompok ini memindahkan begitu saja tata ibadah yang mengekspresikan Keyahudian seperti lagu-lagu Ibrani, ucapan-ucapan Ibrani, kostum-kostum Ibrani, tradisi-tradisi Ibrani, literatur-literatur rabinik dan melaksanakannya dalam pertemuan-pertemuan ibadah individual dan komunal. Dalam kelompok inipun masih terbagi dalam beberapa sub kategori mengenai penggunaan nama Yahweh, yaitu:
- Ha Shem dan Adonai ganti Yahweh
Mereka melarang pengucapan secara literal nama Yahweh, sebagai bentuk pelestarian tradisi dalam Yudaisme yang masih dipelihara secara ketat sampai hari ini di Israel dan komunitas Yudaisme di luar Israel
- Yahweh ganti ha Shem dan Adonai
Berkebalikan dengan kelompok yaang melarang penggunaan nama Yahweh, kelompok ini justru menyalahkan tradisi Yudaisme tersebut dan menekankan serta meyakinkan bahwa penggunaan nama Yahweh secara literal adalah firmaniah dan historis.
- Yahshua, bukan Yeshua
Kelompok ini meyakini bahwa nama Sang Juruslamat bukan Yesus atau Yeshua, melainkan Yahshua yang setara dengan penerus Musa, yaitu Yahshua ben Nun.
- Yeshua, bukan Yahshua
Kelompok ini meyakini bahwa nama Sang Juruslamat bukan Yesus atau Yahshua, melainkan Yeshua, sebagaimana tertulis dalam naskah Perjanjian Baru versi Shem Tov, Du Tillet serta Peshitta
Kontekstualisasi pemahaman Back to Hebraic Root
Mereka yang tergabung dalam komunitas ini adalah yang memiliki visi dan penerapan memperluas aspek pembaruan bukan hanya berhenti dalam penggunaan nama Yahweh. Jika pembaruan hanya berhenti dalam penggunaan nama Yahweh semata, namun pokok iman dan tata ibadah masih dalam baju komunitas yang lama, lalu apa yang berbeda? Ini tentunya bukan visi besar jika sekedar mengganti nama Allah menjadi Yahweh. Komunitas ini menyadari bahwa pembaruan dan pemulihan merupakan tugas dan panggilan besar yang membutuhkan wawasan yang luas dan kinerja pembaru yang berkualitas serta memiliki kapabilitas dan bukan sekedar emosi atau keberanian semata.
Kekhasan komunitas ini adalah dalam dua hal:
Pertama, mengadaptasi tata ibadah dan berbagai ekspresi Yudaik sebagai akar iman namun dalam terang kematian dan kebangkitan Yahshua sebagai Mesias. Berbagai tradisi rabinik Yudaisme yang tidak sejalan dengan Torah Yahweh dan Torah Mesias, tidak dipergunakan, seperti penggunaan nama ha Shem atau Adonai bagi Yahweh.
Kedua, berani mengambil jarak terhadap fenomena Mesianik Yudaisme dan mengapresiasi serta mereaktualisasi dalam KONTEKS lokal etnis dimana mereka berada. Contoh, dalam konteks komunitas Jawa, maka ekspresi ibadah dalam bahasa Jawa atau idiom-idiom Jawa serta kesenian Jawa dengan leluasa di sintesakan dengan warna Hebraik, sehingga menghasilkan PENGAYAAN EKSPRESI KULTURAL. Pola ini diisyaratkaan oleh Rasul Paul mengenai “hancurnya perseteruan” antara Yahudi dan Goyim, oleh kematian dan kebangkitan Yahshua Sang Mashiah [Ef 2:15]. Tidak ada perbedaan dan tidak ada sikap-sikap inferiority compleks dari pihak non Yahudi terhadap Yahudi.
Footnote:
(f1): Sejarah Singkat gerakan Pemulihan Nama YHWH di Indonesia, Wisma Kinasih Bogor, 12-13 Februari 2004, hal 6-10
(f2): Buletin Nafiri Yahshua Vol 31/2006, hal 33-36
PDT. TEGUH HINDARTO, MTH.
NAFIRI YAHSHUA MINISTRY
PO. BOX 122
KEBUMEN 54300
JAWA TENGAH – INDONESIA