SERI: REKONSTRUKSI KEKRISTENAN DAN KRISTEN REKONSTRUKSI
Apakah yang harus dilakukan Gereja dan Kekristenan d Indonesia? Haruskah Kekristenan mengubah namanya menjadi Mesianik? Haruskah pula istilah Gereja diganti menjadi Qahal? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab dalam kajian berikut.
Elliot Klayman, Presiden dari
Union of Messianic Jewish Congregations, memberikan kata pendahuluan untuk buku DR. Michael Schiffman, dengan berkata:
“The Messianic Jewish movement is a movement of restoration that has re-awakened from dormancy and re-emerged to challenge the whole body of Messiah. It is a challenge to the Jewish person who comes to the Lord just as much as it a challenge to the believeng Gentile.
It challenges denominations to re-examine their theological stance on Israel and the people of God. It challenge the local church to re-examine and re-discover its origins”(f1)
[Gerakan Mesianik Yudaisme adalah suatu gerakan pemulihan yang membangunkan kembali dari ketertiduran dan menimbulkan kembali suatu tantangan bagi keseluruhan Tubuh Mesias. Ini merupakan suatu tantangan bagi orang Yahudi yang datang kepada Tuan sebagaimana pula menjadi suatu tantangan bagi orang beriman non Yahudi. Ini menantang berbagai denominasi untuk menguji kembali sudut pandang teologi mengenai Israel dan umat Tuhan. Ini menantang gereja lokal untuk menguji kembali dan menemukan kembali asal-usul-nya]
Berkaca dari pernyataan di atas, Gereja dan Kekristenan di Indonesia, diajak untuk berefleksi mengenai hakikat keberadaan dirinya. Dibutuhkan suatu REKONSTRUKSI menyeluruh dan berkesinambungan terhadap Gereja dan Kekristenan. Rekonstruksi pertama adalah
rekonstruksi dogmatika/ajaran Gereja dan Kekristenan. Apakah Yahshua, para rasul dan para murid-murid di jaman pertumbuhan mula-mula, memahami Tuhan sebagai Tritunggal? Apakah Torah telah digantikan oleh Kasih Karunia? Apakah Gereja telah menggantikan posisi Israel? Apakah Christmass dan Easter merupakan perayaan yang firmaniah? Inilah salah satu pekerjaan rumah di mana proses rekonstruksi dogmatika harus dikerjakan. Bukan hanya rekonstruksi terhadap dogmatika, melainkan juga
rekonstruksi terhadap pola dan tata peribadatan. Apakah Yahshua, para rasul, para murid di zaman pertumbuhan mula-mula beribadah tanpa tata ibadat/liturgi? Apakah ibadah Apakah Yahshua, para rasul, para murid di zaman pertumbuhan mula-mula melaksanakan Perjamuan Kudus? Apakah ibadah Apakah Yahshua, para rasul, para murid di zaman pertumbuhan mula-mula mengubah Sabat menjadi Minggu hanya karena Yahshua bangkit dari kematian pada hari Minggu? Berkaitan dengan persoalan-persoalan di atas, saya telah menuangkan beberapa topik rekosntruksi dan epistemologinya dalam buku berjudul “KEMBALI KE YERUSALEM: PEMAHAMAN TENTANG BACK TO HEBRAIC ROOT THEOLOGY”.
Footnote:
(f1): Op.Cit., Return of the Remnant, p.viii
PDT. TEGUH HINDARTO, MTH.
NAFIRI YAHSHUA MINISTRY
PO. BOX 122
KEBUMEN 54300
JAWA TENGAH – INDONESIA