Seseorang berkata, “untuk apa kita mengucapkan nama Yahweh, thoh Yahshua tidak mengucapkan nama itu dan menyebutnya dengan sebutan ‘Bapa’ [Mat 6:9]?” Persoalannya adalah, siapakah nama Bapa itu? Dan apakah Yahshua memang benar-benar terbukti tidak menyebut nama Yahweh, sebagaimana diasumsikan beberapa orang?
PELARANGAN PENGGUNAAN NAMA YAHWEH
Pada Abad I Ms, pelarangan pengucapan nama Yahweh di tempat umum, menjadi suatu ketetapan dikalangan Yudaisme di Yerusalem. Setiap mereka mengucapkan nama Yahweh, mereka akan mengganti dengan bentuk “euphemisme” [penghalusan] al.,
“Shamayim” [langit],
“Adonai” [tuan],
“ha Kadosh” [yang kudus]. Sebagaimana tercatat dalam literatur Yahudi pra Mesias, yaitu Misnah sbb:
“…di tempat suci, seseorang mengucapkan Sang Nama sebagaimana tertulis, namun di luar tempat itu, harus dengan bentuk euphemisme” [Misnah Sotah 7:6; Berakhot Sotah 38b; Misnah Tamid 7:2]
Setelah penghancuran Yerusalem pada tahun 70 Ms, mazhab Yahudi Prushim [Farisi] melarang penggunaan nama itu. Berdasarkan
“halakha” [keputusan rabinik], mereka menyatakan bahwa nama itu “tersembunyi” [Berakhot Pesakh 50a] dan “harus dirahasiakan” [Berakhot Kiddush 71a][f1].
ASAL-USUL PELARANGAN NAMA YAHWEH
Namun akar dan jejak pelarangan penggunaan nama Yahweh telah jauh ditetapkan sebelum Abad I Ms. Sejak orang Yahudi kembali dari pembuangan Babilonia pada tahun 586 SM, ada sebuah kesadaran baru untuk melakukan reformasi ibadah dalam Yudaisme. Salah satunya adalah penghormatan terhadap nama Yahweh. Meskipun secara literal tertulis dalam Kitab TaNaKh [Torah, Neviim, Kethuvim], namun dalam ucapan sehari-hari, nama Yahweh digantikan dengan sebutan
“Adonai” . Ketika naskah TaNaKh diterjemahkan dalam bahasa Yunani oleh 72 rabi-rabbi Yahudi, untuk kepentingan komunitas Yudaisme di Alexandria, Mesir, yang tidak fasih berbahasa Ibrani, maka nama Yahweh yang jumlahnya 6007 kali muncul dalam TaNaKh, digantikan dengan sebutan
“Kurios” , yang setara dengan
“Adonai” . Dengan demikian, pelarangan penggunaan nama Yahweh telah terjadi jauh sebelum Abad I Ms.
APAKAH PELARANGAN NAMA YAHWEH FIRMANIAH?
Untuk menjawab persoalan ini, biarlah TaNaKh sendiri yang menjelaskan pada kita, mengenai apa yang dikehendaki oleh Yahweh Sang Pencipta. Perhatikanlah beberapa firman Yahweh di bawah ini:
I Tawarikh 16:8 “Bersyukurlah kepada Yahweh, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!”
Mazmur 22:23 “Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah”
Frasa,
“qiru bishemo” [panggillah nama-Nya] dan
“asaprah shimkha” [menceritakan nama-Mu] memberikan indikasi penting bahwa umat Yahweh sebelum pembuangan Babilon, mengucapkan nama itu dalam ibadat, doa, nyanyian dan percakapan sehari-hari. Tindakan itu dikarenakan Yahweh memerintahkan-Nya,
“…lema’an saper shemi [dan supaya nama-Ku dimahsyurkan di seluruh bumi” Kel 9:16]. Berkaca terhadap TaNaKh sebagai otoritas tertinggi umat Yahweh, maka pelarangan penggunaan nama Yahweh, tidak mendapatkan rujukan teologis yang kuat. Itu hanyalah
“halakhah rabinik” setelah pembuangan Babilonia, untuk tujuan menyucikan nama Yahweh.
BUKTI-BUKTI BAHWA YAHSHUA MENGUCAPKAN NAMA YAHWEH
Bukti Pertama, Yokhanan 17:6 “Aku telah
menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia”. Dalam Kitab Yokhanan versi Greek/Bahasa Yunani, kata “menyatakan nama-Mu”, dipergunakan frasa,
“ephanerosa sou to onoma” . Kata
“phanero” bermakna “mewujud nyatakan” atau “menampakkan”. Berbeda dengan “exegesato” yang bermakna “menggali dari dalam agar dimengerti” dan “apokalupto” yang bermakna “membuka tabir, maka kata
“phanero” merupakan kata kerja yang dapat dipahami dan didengar orang banyak. Konsekwensi pemahaman di atas, maka Yahshua Sang Mesias tentunya telah mengajarkan, mengucapkan, menyebut nama Yahweh sehingga dapat diketahui oleh para murid-murid-Nya.
Bukti kedua, Dalam MatitYahu 26:59-65 dilaporkan demikian:
“ha Raashey Kohanim [Imam-imam kepala], malah seluruh Sanhedrin [Mahkamah Agama] mencari kesaksian palsu terhadap Yahshua, supaya Ia dapat dihukum mati, tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang, yang mengatakan: "Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Elohim dan membangunnya kembali dalam tiga hari." Lalu Kohen ha Gadol [Imam Besar] itu berdiri dan berkata kepada-Nya: "Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" Tetapi Yahshua tetap diam. Lalu kata Kohen ha Gadol [Imam Besar] itu kepada-Nya: "Demi Elohim yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Putra Elohim, atau tidak." Jawab Yahshua: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Bar Enosh [Putra Manusia] duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." Maka Kohen ha Gadol [Imam Besar] itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Elohim. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.
Perhatikan frasa, “Bait Elohim” dalam ayat 61 dan “duduk di sebelah kanan Yang Maha Kuasa” dalam ayat 64, dari rangkaian ayat di atas. Dalam TaNaKh, tidak pernah disebutkan
“Bet Elohim” , melainkan
“Bet Yahweh” . Ini bukti bahwa penulis Perjanjian Baru berbahasa Yunani, melakukan “euphemisme” terhadap nama Yahweh. Adapun pernyataan kedua, mengutip TaNaKh, yaitu Mazmur 110:1 dan Daniel 7:13 yang digabungkan menjadi satu. Dalam Mazmur 110:1, nama Yahweh muncul, namun dalam naskah Perjanjian Baru berbahasa Greek/Yunani, dituliskan
“tes dunameos” [Yang Maha Kuasa]. Fakta ini kembali membuktikan bahwa penyalin Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani, menggunakan bentuk euphemisme terhadap nama Yahweh dengan sebutan pengganti[f2].
Yang menarik, dalam ayat 65, Imam Besar merobek pakaian Yahshua dan mengatakan bahwa Yahshua mengucapkan perkataan hujat. Bandingkan dengan literatur Yahudi yang disebut Misnah Sanhendrin 7:5 sbb:
“Dia yang menghujat, layak dihukum hanya ketika dia mengucapkan sepenuhnya Nama Tuhan. Berkata Rabbi Yahshua ben Qorha, “Setiap hari pemeriksaan persidangan, mereka menguji saksi dengan nama pengganti…Pada suatu kali pemeriksaan selesai, mereka tidak akan membunuh dia yang menggunakan euphemisme, namun mereka mengeluarkan setiap orang dan menanyakan kesaksian yang teramat penting dengan berkata padanya, ‘katakan apa yang sesungguhnya kamu dengar?’ Dan dia mengatakan apa yang dia dengar. Dan hakim menginjak kaki mereka dan merobek pakaian mereka…”
Bukankah kemarahan Imam Besar membuktikan bahwa Yahshua mengucapkan nama Yahweh sepenuhnya, sehingga Dia dituduh menghujat dan pakaiannya dirobek?
Bukti ketiga, ada sebuah lietarur Yahudi kuno yang menurut Hugh Schonfield, penulis buku
According to the Hebrews, menyatakan sebagai
“a hostile parody” [sebuah ejekan yang mengandung permusuhan]. Buku tersebut berjudul
“Toldot Yeshu” . Meskipun kitab ini merupakan literatur yang beredar dikalangan Yudaisme yang bersifat menentang hakikat Yahshua sebagai Mesias Yisrael dan membuat cerita rekaan di dalamnya, namun ada beberapa pernyataan di dalamnya yang menyiratkan sebuah kebenaran.
“Setelah Raja Yannaeus wafat, istrinya yang bernama Helena memerintah atas Yisrael. Di Bait Suci ditemukan Batu Fundasi yang bertuliskan huruf NAMA TUHAN YANG TIDAK TERUCAPKAN. Siapapun yang mempelajari rahasia Nama itu dan menggunakannya, akan mampu melakukan apapun yang dia inginkan. Namun para rabbi meletakkan penjaga-penjaga sehingga tidak ada seorangpun yang memperoleh pengetahuan itu. Patung singa terbuat dari kuningan diikat pada dua pilar besi di gerbang tempat pembakaran korban. Siapapun orang yang bermaksud untuk mempelajari nama itu, ketika mereka meninggalkan tempat itu, maka patung-patung singa itu akan mengaum padanya dan segera dia akan melupakan rahasia yang bernilai tersebut. Kemudian Yeshu datang dan mempelajari huruf Nama itu; dia menuliskannya pada perkamen yang diletakkan di dalam paha yang telah disobek kemudian dijahitnya untuk menutupi perkamen itu. Ketika dia meninggalkan tempat itu, patung-patung singa itu mengaum dan diapun melupakan rahasia Nama itu. Namun ketika dia masuk ke rumahnya, dia merobek daging pahanya dengan pisau dan mengeluarkan tulisan itu. Kemudia dia menjadi ingat dan ingin menggunakan huruf-huruf itu. Dia mengumpulkan tiga ratus sepuluh orang muda Yisrael dan mengutuk siapapun yang berkata jahat mengenai asal-usulnya. Yeshu menyatakan bahwa “Aku adalah Mesias”…Para pengacau bersamanya dan menanayakan, jika Yeshu adalah Mesias, seharusnya dia memberika kepada mereka sebuah tanda yang meyakinkan. Kemudian mereka membawa padanya orang lumpuh yang belum pernah berjalan. Yeshu mengatakan pada orang itu huruf-huruf NAMA YANG TIDAK TERUCAPKAN, maka orang kusta itu disembuhkan. Sehingga mereka menyembah dia sebagai Mesias, Putra Yang Maha Tinggi” [f3]
Dari pemaparan kisah di atas kita mendapatkan suatu keterangan tersirat, bahwa meskipun nada cerita fiksi di atas hendak merendahkan hakikat Yahshua yang berkuasa atas penyakit bahkan maut, karena Dia memang Mesias dan Putra Yahweh yang sejati, namun ada fakta yang tidak dapat disangkal bahwa orang-orang Yahudi mengakui bahwa Dia mengucapkan Nama Yahweh, yang oleh mereka disebut dengan NAMA YANG TIDAK TERUCAPKAN. Kenyataan ini sejalan dengan perkataan Yahshua bahwa diri-Nya telah MENYINGKAPKAN, MEWUJUDNYATAKAN, MENGAJARKAN NAMA YAHWEH pada semua orang yang ditemuinya.
Footnote:
- [f1] : DR. James Trimm, Nazarene & the Name of YHWH, www.nazerene.net
- [f1] : Ibid
- [f1] : Alan Humm, Toledoth Yeshu, http://ccat.sas.upen.edu/toledoth.html
Pdt. Teguh Hindarto, MTh.
Buletin NAFIRI YAHSHUA Vol 34 2007