08-10-2007
|
| ESSENSI YAHSHUA MENURUT KITAB YOKHANAN |
| |
| |
PEMAHAMAN TENTANG MAKNA “LOGOS”
Rasul Yokhanan memulai “Kabar Baik”nya [Injil/Euangelion/Besorah] dengan sebuah pernyataan : “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Elohim dan Firman itu adalah Elohim” [Yoh 1:1]…”Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” [Yoh 1:14].
Dalam naskah Greek di tuliskan, “en arche en ho Logos kai ho Logos en pros ton Theon, kai Theos en ho Logos”[f1]. Sementara dalam naskah Aramaik di tuliskan, “Beresyit eytuhay hua Malta we hu Malta eytuhay hua lut Alaha we Alaha eytuha hua hu Malta” [f2]. Sementara dalam naskah Bahasa Ibrani di terjemahkan, “Bereshit haya ha Davar we ha Davar haya et ha Elohim we hu ha Davar haya Elohim”. Sementara dalam Hebraic Root Version New Testament di terjemahkan, “In the beginning was the Word and the Word was with Eloah and Eloah was the Word” [f3]
Yokhanan memberikan penjelasan mengenai “Pra Ada” [Pre Existence] dari Sang Mashiah yang di sebutnya dengan, “Davar”, “Malta”, “Logos”. Istilah “Davar” bermakna, “word, saying, speech, news, command, promise, incident, occurance, history, concern, cause, question, law, suit” [f4]. Adapun istilah “Malta” bermakna, “something, matter, word, statement” [f5]. Sedangkan istilah “Logos” , di artikan sebagai “principle of reason or order immanent in the universe, the principle which imposes form on the material world and constitutes the rational soul in man” [f6].
Dalam naskah Yunani, di pergunakan istilah “Logos” untuk Firman. Ada dua persoalan yang hendak di kaji dalam kaitannya dengan istilah Logos.
APAKAH YOKHANAN MENGAMBIL ALIH
GAGASAN PLATONIK TENTANG LOGOS?
“Logos”, dalam arti filsafatnya sudah lama di pakai sebelum penggunaannya di dalam Kitab Yokhanan, baik dalam konteks pemikiran Yunani maupun Mesir bahkan pemikir Yahudi bernama Philo[f7].
- Heraklitus [500 seb.Ms] mula-mula menggunakan istilah Logos. Menurutnya, dunia selalu mengalami perubahan. Daya penggerak perubahan tersebut adalah Logos. Logos adalah pikiran yang benar dan bersifat kekal
- Anaxagoras [400 seb.Ms] beranggapan bahwa Logos adalah jiwa manusia yang menjadi pengantara antara Elohim dan manusia. Logos berdiam di dalam dunia.
- Philo [20 seb.ms-20 Ms] seorang Yahudi Alexandria menyatakan bahwa Logos adalah akal elohim yang menjadi pengantara antara Elohim dan manusia. Logos tidak berkepribadian dan Logos tidak dapat berubah menjadi manusia.
Kembali kepada pertanyaan sebelumnya. Mengenai pertanyaan bahwa Yokhanan mengambil alih atau tidak suatu gagasan filsafat Platonik tentang Logos dapat di jelaskan dari beberapa perspektif.
Perspektif pertama, mengutip pandangan DR. Purnawan Tenibemas sbb : “Rasul Yohanes tanpa ragu-ragu memakai kata Logos sebagai sarana untuk memperkenalkan Tuhan Yesus. Tetapi Logos yang di maksudkan oleh Yohanes tidak sama dengan Logos yang di artikan oleh orang lain. Selanjutnya Purnawan menambahkan, “Rasul Yohanes telah menyimak suasana pikiran zamannya, mengambil istilah yang umum di pakai dan tumpuan harapan orang sesamanya, serta memberi arti baru yang lebih dalam sesuai dengan ilham Roh Kudus kepadanya” [f8]. Berbeda dengan Purnawan, dalam bukunya, Tafsiran Injil Yohanes 1-5, Olla Tuluan, Ph.D., menjelaskan bahwa penggunaan istilah Logos dalam Injil Yokhanan di karenakan istilah itu sudah di kenal dalam lingkungan Yahudi dan Yunani, namun penggunaan Logos harus di mengerti latar belakangnya dalam penyataan Elohim dalam Perjanjian Lama[f9].
Bagaimana TaNaKh [Torah, Neviim, Kethuvim] atau lazim di sebut Kitab Perjanjian Lama, menjelaskan essensi Firman ? Ada empat essensi Firman berdasarkan kesaksian TaNaKh, yaitu :
- Daya Cipta Elohim
“bi devar Yahweh shamaym naasyu, ube ruakh piw, kal tsevaam” [Sefer Tehilim 33:6] yang artinya, “Oleh Firman Yahweh langit telah di buat dan oleh nafas dari mulut-Nya, terbentuklah semua tentara-Nya” [Mzm 33:6]. Dalam Sefer Beresyit atau Kitab Kejadian, sebanyak 9 kali istilah “Amar” [Firman] di hubungkan dengan terjadinya ciptaan. Di tuliskan, “wayomer Elohim, ‘yehi wa yehi’, artinya, “jadi maka jadilah”.
- Utusan Elohim
“yislakh devaru we yirpaem…” [Sefer Tehilim 107:20] artinya, “Dia mengutus Firman-Nya dan di sembuhkannya mereka” [Mzm 107:20]
- Pelaksana Kehendak Elohim
“ken yihye devari asher yetse mipiy. Lo yashuv elay reqam. Ki imasha et asher khapatsti we hitsliyakh asher shelakhtiw” [Yes 55:11] yang artinya, “demikianlah Dia, Firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku tidak akan kembali kepada-Ku dengan kehampaan namun Dia akan melaksanakan dengan sempurna apa yang Aku inginkan dan akan memperoleh tujuan-Nya sebagaimana Aku mengutus-Nya” [Yes 55:11].
- Kehendak Elohim yang di komunikasikan pada para nabi-Nya
“wa yomer et Yahweh el YesaYah..” [Sefer Yesayah 38:4] “Maka berfirmanlah Yahweh kepada Yesaya..” [Yes 38:4].
Logos, Elohim atau “suatu Elohim “?
Sehubungan dengan bunyi teks Kitab Yokhanan naskah Greek, “kai Theos en ho Logos” [Yoh 1:1] ada beberapa terjemahan yang berbeda sesuai dengan asumsi masing-masing penerjemah. Dalam The New Testament in An Improved Version di terjemahkan demikian : “dan Firman itu adalah suatu [elohim]” , 1808. Sementara The Emphatic Diaglot menerjemahkan, “dan suatu [elohim] Firman itu” , 1864. Lalu La Bible du Centenaire L’Evangile selon Jean menerjemakan, “dan Firman itu adalah suati pribadi elohim” , 1928. Dan akhirnya The Bible An Ammerican Translation menerjemahkan, “dan Firman itu elohim” , 1935. [f10] Mengapa beberapa terjemahan di atas berbeda dengan terjemahan pada umumnya [“dan Firman itu adalah Elohim”]?? Donald Guthrie membahas kesalahpahaman banyak orang terhadap frasa naskah Yokhanan berbahasa Greek, sbb :
“Dalam Yokhanan 1:1 dalam bahasa Yunani, kata Theos tidak mempunyai kata sandang, hal ini telah menyesatkan banyak orang yang berpikir bahwa pengertian yang benar dari pernyataan itu ialah, ‘Firman itu adalah seorang elohim’, tetapi secara tata bahasa pengertian itu tidak dapat di pertahankan, karena kata Theos merupakan predikat. Tidak dapat di ragukan bahwa Yokhanan bermaksud agar para pembacanya mengerti bahwa Firman itu memiliki sifat [Elohim], tetapi ia tidak bermaksud bahwa Firman dan Elohim merupakan istilah yang sama artinya, karena pernyataan sebelumnya dengan jelas membedakan keduannya. Seharusnya pernyataan ini berarti bahwa walaupun Firman itu adalah Elohim, namun pengertian tentang [Elohim] mencakup lebih dari Firman…dengan beberapa kata ia telah memberi kesan mengenai sikap dan kedudukan Keelohiman dari Firman yang selalu bersama-sama dengan [Elohim] [f11].
MAKNA “LOGOS” DALAM KITAB YOKHANAN
Dari eksposisi esensi Firman dalam TaNaKh, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Rasul Yokhanan sedang menggemakan kembali hakikat dan fungsi “davar” dalam TaNaKh yang terlibat langsung dalam penciptaan dan kekal bersama Yahweh Sang Pencipta. DR. David Stern menjelaskan, “The language echoes the first sentence of Genesis…thus the TaNaKh lays the groundwork for Yochanan’s statement that the Word was with God and was God’s[f12].
Penggunaan istilah “Logos” dalam Kitab Yokhanan berbahasa Greek, bukan menandakan bahwa Yokhanan mengambil alih ide tentang “Logos” Helenistik Platonik dan mengisinya dengan arti yang baru, sebagaimana anggapan banyak teolog. Penggunaan istilah Logos merupakan pemindahan bahasa untuk menerjemahkan makna kata “Davar” atau “Malta” serta “Memra” [dalam Targum]. Dengan menggunakan istilah Logos, pengertiannya mudah di kenali oleh pembaca Yahudi [pengikut Filsuf Philo] maupun pembaca Hellenis [pengikut Filsuf Anaxagoras, Heraklitus, dll], meskipun esensi Logos yang di bicarakan Yokhanan berbeda secara substansial dan konseptual dengan gagasan Helenistik.
Firman Yahweh tidak di ciptakan karena Firman Yahweh ada dalam kekekalan bersama dengan Yahweh. Firman adalah Daya Cipta Yahweh[yang menyebabkan sesuatu Ada]. Firman tidak di ciptakan. Jika Firman di ciptakan, dengan apakah Firman di ciptakan ??
Eksposisi Kitab Yokhanan 1:1-18 hendak menjelaskan aspek Ontologi dan Antropologi mengenai Yahshua, sbb:
- “Dia bersama Elohim” [ay 1]. Artinya, sang Firman berdiam dan sehakikat dengan Elohim Yahweh. Kata yang di terjemahkan “bersama dengan” adalah “pros”. Marcus Doods memberikan komentar mengenai penggunaan kata “pros” sbb : “pros, implies not merely existence alongside with but personal intercourse” [f13]
- “Dia adalah Elohim” [ay 1]. Artinya, sang Firman adalah manifestasi, ekspresi dari pikiran dan kehendak Elohim. Dia adalah daya Kreatif, Daya Cipta yang menciptakan sesuatu menjadi ada dan bukan ciptaan.
- “Dia menjadikan segala sesuatu” [ay 3]. Artinya, dari segala yang ada dan hidup, Sang Firmanlah yang menyebabkan adanya sesuatu. Dalam Kitab Kejadian 1:3, 6, 9, 11, 14 ,20, 24, 26, 29, di tegaskan bahwa Firman “menjadikan segala sesuatu”, sebagaimana ungkapan “yehi wa yehi” [jadilah ada maka jadilah ada]. Ungkapan tersebut sejajar dengan istilah Qur’an, “kun fa yakun”.
- “Dia kekal” [ay 4]. Artinya, Dia tidak akan mengalami kemusnahan atau eksistensi yang temporal. Dia adalah eternal. Pernyataan ini tersirat di balik istilah Yunani “zoe” atau Ibrani “khay” yang bermakna “kehidupan yang berkualitas kekekalan”.
- “Firman itu menjadi manusia” [ay 14]. Artinya, Firman yang merupakan Daya Cipta Elohim telah menjadi daging. Istilah Yunani “Sark” atau Ibrani “Bashar” , biasanya di terjemahkan, “daging” dan menunjukkan pada keberadaan manusia seutuhnya. Baik Heraklitus, Anaxagoras maupun Philo, tidak pernah menyangka bahwa Logos dapat menjadi manusia.
- “Yahshua [Firman yang menjadi manusia] adalah Putra Elohim” [ay 18]. Artinya, Dia datang dari hakikat Elohim dan menyatakan siapa Elohim Yahweh yang eksistensi-Nya adalah Roh, dalam ucapan, pikiran, tindakan seorang manusia, yaitu dalam pribadi-Nya. Istilah Yunani “Huiou” atau Ibrani “Ben” , bermakna anak bukan dalam pengertian biologis semata. Konsekwensinya bagi hakikat Yahshua, terma Putra, menunjukkan terma kesehakikatan dan terma bagi Firman yang menjadi manusia.
KESEMPURNAAN UNITAS KETUHANAN DAN KEMANUSIAAN YAHSHUA
Jika kita membaca keseluruhan Kitab Perjanjian Baru, khususnya Injil Sinoptis [MatitYah, Markos, Lukas, Yokhanan] namun berusaha mengabaikan perspektif Ontologis Yahshua, maka kita tetap akan melihat perspektif Anthropologis Yahshua yang sempurna. Perspektif anthropologis yang sempurna itu terlihat dalam hal kerendahan hati Yahshua yang sempurna, kesetiaan dan ketaatan Yahshua sampai mengalami kematian di kayu salib, kesabaran Yahshua memperlakukan kedegilan murid-murid-Nya, dll. Yahshua, bukan separuh manusia separuh Elohim [50%/50%]. Secara Ontologis, Dia adalah Sang Firman Elohim [100%] dan secara Antropologis, Dia adalah manusia seutuhnya [100%]. Merujuk pada Konsili Chalcedon pada tahun 451 Ms telah di tetapkan bahwa Yahshua bertabiat ganda dalam satu oknum. Dia bukan bertabiat satu namun juga bukan bertabiat dua. Tabiat ganda Yahshua [yang Elohim dan Manusia] tidak bercampur [ a-sunkhutos, pernyataan ini menolak ajaran Euthices dan Cyrilius dari Alexandria yang berkeyakinan Monofisit] namun juga tidak terpisah secara ekstrim [ a-khoristos, pernyataan ini menolak ajaran Nestorius dari Anthiokhia yang berkeyakinan Duofisit] [f14].
Footnote:
- [f1]: Op.Cit., The Greek New Testament
- [f2]: Agnes Smith Lewis, The Old Syriac Gospels or Evangelion da Mepareshe, 1910
- [f3]: Op.Cit., The New Testament in Hebrew & English
- [f4]: DR. Karl Feyerabend, Langenscheidt’s Pocket Hebrew Dictionary [Heb-Eng], Germany, p.66
- [f5]: Michael Sokoloff, A Dictionary of Jewish Palestinian Aramaic, Bar Ilan University Press & The John Hopkins University Press, 2002, p.305
- [f6]: F.F. Bruce, The Gospels of John, Eerdmans, 1983, p.29
- [f7]:Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I, BPK Gunung Mulia, 1993, hal 363
- [f8]: Apologetika Abad Pertama [ Buletin “Sahabat Gembala”, Bandung, 1992, h.58]
- [f9]: STT I-3, Batu, Malang, Jatim, 1993, hal 13
- [f10]: Watch Tower Bible And Tract Society of Pennsylvania, Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal ?, Brooklyn, new York, U.S.A, 1989, hal 27
- [f11]: Op. Cit., Teologi Perjanjian Baru I, hal 371
- [f12]: Op.Cit., Jewish New Testament Commentary, p.153
- [f13]: The Exspositor’s Greek Testament, Vol I, p.684
- [f14]: DR. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, BPK Gunung Mulia, 1993, hal 117 & DR. H. Berkhof –I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, BPK Gunung Mulia, 1993, hal 58
PDT. TEGUH HINDARTO, MTH
NAFIRI YAHSHUA MINISTRY
|
| |
Komentar terhadap Artikel ini dapat Anda kirim ke komentar@messianic-indonesia.com
Jangan lupa untuk mencantumkan Judul Artikel ini dalam komentar Anda
Anda juga dapat berpartisipasi dalam situs ini
dengan mengirimkan Artikel anda ke redaksi@messianic-indonesia.com |
--- tguh --- |
|