Easter & Eukharisti : Distorsi terhadap Pesakh Ibrani
Setelah Kekristenan berkembang keluar Yerusalem dan semakin banyaknya orang non Yahudi mengikut Mesias Yahshua, maka berbagai praktek dan kebiasaan paganistik/kafir , terbawa masuk secara sinkretik. Fenomena ini muncul pada Abad 2 Ms. Bahkan ketika Konstantine memproklamirkan Kekristenan sebagai agama negara di Roma, maka pelbagai tata ibadah dan perayaan Hebraik banyak yang terdistorsi. Muncullah istilah Easter, Christmass, Ibadah Minggu, dll.
1. Hakikat Easter
Kata “Easter” dipergunakan untuk mengistilahkan “Paskah”. Dalam terjemahan versi King James, ata tersebut disematkan satu kali dalam Kisah Rasul 12:4. Dalam The Oxford English Dictionary, dijelaskan mengenai asal usul kata “Easter” sbb : “Easter memiliki nama mula-mula daari periode pra Kristen, sebuah nama yang dirayakan bagi Eostre, dewi dari Jerman kuno yang juga dikenal dengan sebutan Eos dari Yunani atau sebagai Usha/Ushas nama dewi Hindu. Eostre dikenal sebagai dwi kesuburan atau kelahiran. Selanjutnya, ini adalah nama lain dari dewa matahari, nama lain dari kedewaan, Eostre, Eastre, Eostra atau Ostara, yang telah diadopsi oleh Kekristenan. Dalam kebudayaan Yunani kuno disebut dengan Eos atau Homer atau Ishtar dalam tradisi Syria. Dalam kebudayaan Yunani kuno, Eos dipandang sebagai dewi yang penuh cinta dan dihubungkan dengan kesuburan yang dilambangkan dalam bentuk telur atau kelinci” [C.J. Koster, Come Out of Her My People, Institute For Scriptures Research, 1998, p.25]
2. Hakikat Ekaristi
Kata “Ekaristi” lazim dilaksanakan dalaam Gereja Katholik. Kata Ekaristi sendiri berasal dari kata Yunani “Eukharisteo” yang bermakna “ucapan syukur” [Mat 15:36, 1 Kor 10:30], “berterimakasih” [Rm 16:4]. Karakteristik dalam Ekaristi adalah :
Artikel Selengkapnya ...