top
logo

Indonesian Judeochristianity Institute

Indonesian Judeochristianity Institute
berafiliasi dan berpartner dengan
Hebraic Roots Teaching Institute


DAFTAR BUKU


KURSUS TERTULIS IJI


KURSUS BAHASA IBRANI


BULETIN IJI

Dapatkan Sekarang




Bahasa


.
Home
APAKAH ARTI NAMA YAHWEH ITU? PDF Print E-mail

Apalah arti sebuah nama?” Demikianlah sepenggal kalimat ucapan pujangga Shakespeare, penulis kisah “Romeo & Juliet” itu. Kalimat ini sekarang menjadi populer diucapkan oleh orang-orang Kristen yang menolak eksistensi dan penggunaan nama Yahweh. Dalam semangat yang dibungkus ketidaktahuan, mereka melemahkan arti penting nama Yahweh dalam TaNaKh dengan menyatakan bahwa Tuhan tidak memiliki nama, Tuhan tidak memerlukan nama, Tuhan tidak peduli hendak dipanggil dengan nama apa,…

Marilah kita menguji asumsi di atas. Kitab TaNaKh, mencatat bahwa nama-nama tokoh Kitab Suci, selalu memiliki arti dan maksud tertentu. Namun tidak sepenuhnya kita mengerti, jika hanya mengandalkan naskah kitab suci terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, tanpa melihat struktur dalam bahasa aslinya, Ibrani. Contoh: Nama Noakh bermakna “menghibur”. Dalam teks Ibrani berbunyi, “wayiqra et shemo Noakh lemor, zeh yanakhamenu mimmaashenu umeitsvon yadenu min haadamah asyer errah Yahweh” . Kata “yenakhamenu” merupakan kata kerja piel orang ketiga tunggal dari “nakham” yang artinya “menghibur”. Kemudian, nama “Avraham” memiliki makna,

“Bapa dari sekian banyak bangsa-bangsa”. Dalam teks Ibrani berbunyi, “…wehayah shimkha Avraham, ki Av hamon goyim netatiyka” . Penambahan huruf  [heh] pada nama  [Avram] menjadi  [Avraham], berkaitan dengan kata  [hamon] yang artinya “melimpah”. Nama Yitskhaq bermakna “dia tertawa”. Dalam Kejadian 21:6 dikatakan, “tsekhoq asyah li Elohim, kal hashome’a yitskhaq li” . Kata “yitskhaq” merupakan bentuk imperfek dari “tsakhaq” yang artinya “tertawa”.

Dari pemapara di atas, kita mendapatkan kesimpulan bahwa nama memiliki makna yang mendalam. Latar belakang pemberian nama, dapat dikarenakan suatu peristiwa yang sedang dialami atau suatu perkataan yang diucapkan atau suatu sikap di dalam diri kita, serta menyiratkan sesuatu yang akan dikerjakan oleh individu yang hendak diberi nama. Hanya orang tua yang tidak bertanggung jawablah yang memberikan nama anaknya dengan tidak memikirkan maknanya.

Demikian pula dengan nama Sang Pencipta. Apakah Dia diberi nama oleh umat-Nya? Apakah umat-Nya menamai berbagai sifat yang melingkupi diri-Nya? Atau sebaliknya, Dia yang menyingkapkan nama-Nya dan menghendaki nama-Nya dipanggil oleh umat-Nya? Kitab Suci merekam pertemuan agung antara Elohim Semesta Alam dengan Moshe di Sinai [Kel 3:1-22]. Elohim Yang Agung menampakkan diri dalam bentuk api di semak-semak, namun api tersebut tidak membakar semak-semak tersebut. Ketika Moshe hendak diutus Sang Pencipta untuk membebaskan umat Yishrael dari perbudakan Bangsa Mitsrayim, maka Moshe bertanya kepada Sang Pencipta, “mah shemo?” [siapakah nama-Nya]. Dalam tata bahasa Ibrani, untuk menanyakan sesuatu atau seseorang, biasanya digunakan bentuk tanya “mi?” Namun penggunaan kata “ma” , bukan hanya bermaksud menanyakan nama secara literal namun hakikat atau pribadi dibalik nama itu[f1].

Terdengarlah suara bergema diangkasa, “Ehyeh Asyer Ehyeh” yang artinya “AKU ADA YANG AKU ADA”. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan, “AKU ADALAH AKU”. Terjemahan ini tidak tepat. Jika “AKU ADALAH AKU”, seharusnya teks Ibrani tertulis “Anokhi hayah Anokhi”. Kata “EHYEH”, merupakan bentuk kata kerja imperfek [menyatakan sesuatu yang sedang berlangsung atau belum selesai] dari akar kata “HAYAH”. G. Johanes Boterweck dan Helmer Ringren dalam Theological Dictionary of The Old Testament menjelaskan, bahwa kata “Hayah” digunakan dalam Perjanjian Lama dan diterjemahkan dengan opsi sbb: {1} “Exist, be Present” [Ada, Hadir] {2}”Come into Being” [menjadi] {3} Auxilaries Verb [kata kerja bantu][f2]. DR. Harun Hadiwyono dalam bukunya Iman Kristen, menyatakan bahwa kata “Ehyeh” bermakna “Aku Berada” . Namun saya lebih cenderung menerjemahkannya menjadi “AKU [AKAN] ADA”.

DR. Harun Hadiwyono selanjutnya menegaskan implikasi sebutan “Ehyeh” oleh Yang Maha Kuasa, yaitu bahwasanya Tuhan bagi Musa dan Israel bukanlah Tuhan yang tidak bergerak, bukan Tuhan yang mati melainkan Tuhan yang hidup dan penuh dinamika[f3]. Saya sependapat dengan beliau, bahwa makna dan implikasi penggunaan kata kerja ‘EHYEH” mengandung muatan teologis yang mendalam, bahwa Elohim yang mengutus Moshe adalah Elohim yang senantiasa berkarya, menjadi dan tidak pernah berdiam diri. Implikasi teologis bagi kita yang hidup ribuan tahun setelah Moshe, bahwa kita bukan sedang menyembah “elohim” yang berwujud patung atau benda mati. Bukan pula memuja kekuatan-kekuatan alam yang dipertuhan seperti angin ribut, halilintar, dll.

Banyak yang memahami ayat ini sebagai penolakan Tuhan untuk menjawab pertanyaan Moshe, sehingga Dia memberikan teka-teki dengan ucapan “Ehyeh” . Demikianlah Stefan Leks dalam bukunya, Menuju Tanah Terjanji, menjelaskan: “Maka jelaslah ungkapan Alkitabiah ini menegaskan akan adanya Tuhan, tetapi sebenarnya tidak memberi jawaban siapakah nama Tuhan itu”[f4].
Penyingkapan tabir hakikat dan nama Sang Pencipta tertulis dalam Keluaran 3:15, "Yahweh Elohe avotekem, Elohe Avraham we Elohe Yishaq we Elohe Yaaqov, shelakhmi aleikem, ze shemi le olam we ze zikri le dor dor" [Yahweh Elohim nenek moyangmu Elohim Abraham, Elohim Yitshaq dan Elohim Yaaqov Telah mengutus aku kepadamu Inilah nama-Ku untuk selamanya Dan inilah pengingat-Ku turun temurun]. Perhatikan frasa Ibrani Keluaran 3:15 sbb:



Frasa “zeh shemi leolam” [inilah nama-Ku Yang Kekal], menunjuk kepada nama “Yahweh”. Ada yang berpendapat, bahwa “Yahweh” adalah kata kerja imperfek orang ketiga tunggal. Ini pendapat yang keliru. Sekalipun akar kata “Yahweh” adalah “hayah” , sehingga “Yahweh” bermakna “Dia Ada”. Namun bentuk kata kerja orang ketiga tunggal dari “hayah” adalah “yihyeh” . Adapun “Yahweh” adalah nama dari Sesembahan [Elohim] Avraham, Yitskhaq dan Yaakov. Makna nama Yahweh sendiri adalah “YANG SENANTIASA ADA, HADIR, BERBUAT, BERKARYA, BERTINDAK”.

Keluaran 3:14 menyingkapkan “sifat dan keberadaan” Sang Pencipta, melalui bentuk kata kerja imperfek orang pertama tunggal, “Ehyeh”. Sementara Keluaran 3:15 menyingkapkan bahwa nama Elohim [Sesembahan, Tuhan] dari Avraham, Yitshaq dan Yaakov bernama Yahweh. Nama ini bukan hasil penelitian Moshe atau penjelajahan Moshe dalam dunia esoteris sehingga berhasil mendapatkan nama Sang Pencipta, melainkan penyingkapan nama Sang Pencipta adalah INISIATIF Sang Pencipta sendiri, untuk memperkenalkan jati diri-Nya pada Musa dan Yisrael. Berbeda dengan agama-agama yang menamakan berbagai gejala alam [angin, hujan, badai, panas, dll] menjadi nama tuhan mereka, maka Yudaisme dan Kekristenan [Mesianik], berangkat dari keyakinan bahwa Elohim telah memperkenalkan nama pribadi-Nya, karena Dia berkehendak untuk dikenal oleh umat-Nya.

Apakah Nama Yahweh mengandung kuasa? Jika nama Yahweh memiliki makna yang mendalam dan ada kaitannya dengan kata “HAYAH” [berada, hadir, bertindak], maka nama Yahweh tentunya memiliki kuasa yang luar biasa. Dikatakan dalam Sefer Mishley [Amsal] 18:10], “migdal oz shem Yahweh, bo yaruts tsadiq we nisgav” , yang artinya “nama Yahweh adalah menara yang kokoh, orang benar berlari menghampirinya dan menjadi selamat”. Ayat ini menegaskan bahwa nama Yahweh berkuasa untuk menyelamatkan. Bangsa Yisrael sebagai umat perjanjian Yahweh telah berkali-kali membuktikan kedahsyatan nama Yahweh. Yahweh telah menunjukkan keperkasaannya dengan menghukum elohim orang Mitsrayim dengan sepuluh tulah, dengan membelah Yam Suf [laut Suf] dengan angin timur yang kuat, dengan mengirimkan manna dari langit yang memelihara perjalanan orang Yishrael di padang gurun sehingga tidak kelaparan, dengan memayungi bangsa Yishrael dengan tiang awan pada waktu siang hingga tidak kepananasan dan dengan tiang api pada waktu malam, sehingga tidak kedinginan dan dikuasai gelap, dengan memberikan kemenangan dalam peperangan melawan para penyembah berhala. Bukti keperkasan nama Yahweh adalah ketika Nabi EliYah melawan lima ratus nabi Baal di gunung Horev dan Yahweh yang disembah dan dipanggil nama-Nya menjawab dengan api yang menyambar dari langit [1 Raj 18:20-46].

Namun bagaimana dengan nama Yahshua? Bukankah kitab Brit ha Khadasa [Perjanjian Baru] mengajarkan untuk memanggil didalam nama Yahshua untuk berbagai doa yang dinaikkan kepada Bapa? Bukankah nama Yahshua adalah nama di atas segala nama yang menyelamatkan? [Kis Ras 4:12]? Bagaimana kita mensinkronkan hal penggunaan nama ini? Yahshua adalah Sang Firman Yahweh yang telah menjadi manusia [Yok 1:1,14]. Yahshua adalah perwujudan Firman Yahweh dalam rupa manusia [1 Tim 3:16]. Dia disebut sebagai Putra Yahweh, yang bermakna datang dan keluar dari hakikat Yahweh [Yok 8:42]. Yahshua sendiri telah mengajarkan bahwa Dia dan Yahweh, yang disebut dengan “Bapa” adalah “ekhad” [satu kesatuan, Yok 10:30] dan jika seseorang berdoa kepada Bapa, berdoalah di dalam nama Yahshua [Yok 14:14].

Dari penjelasan di atas, kita mendapati pelajaran penting bahwa Firman Yahweh telah datang dalam wujud manusia, Yahshua, yang disebut “Mesias dan Putra Elohim yang bernama Yahweh” [Mat 16:16]. Kuasa Bapa Yahweh di Sorga telah didelegasikan dalam pikiran, perkataan dan tindakan Yahshua. Maka apabila orang beriman bermohon dalam doa kepada Bapa Yahweh di Sorga, mestilah dilandasi di dalam nama Yahshua, sebagai perwujudan fisik Firman Yahweh yang menjadi manusia [Yok 14:14]. Nama Yahshua memiliki kuasa yang setara dengan Yahweh, karena Yahshua adalah yang datang dan keluar dari Yahweh, Bapa-Nya [Yok 8:42].

Entahkah kita memanggil dalam doa, dengan menggunakan nama Yahweh atau nama Yahshua, adalah sama saja. Yahshua telah mengajarkan, “Apabila kamu berdoa, Bapa kami yang di Sorga…” [Mat 6:9]. Dan disisi lain Yahshua mengajarkan, “Apabila kamu meminta sesuatu kepada-Ku di dalam nama-Ku, maka Aku akan melakukannya” [Yok 14:14]. Semua ini dapat terjadi, dikarenakan Yahshua sehakikat dengan Yahweh Bapa-Nya. Dia adalah perwujudan pikiran, perkataan dan kedendak Yahweh. Namun demikian, ini bukan menjadi alasan bagi kita untuk tidak perlu memanggil nama Yahweh. Karena Yahshua mengajarkan mengenai nama Bapa-Nya [Yok 17:6], maka meskipun kita berdoa dalam nama Yahshua, namun kita harus mengetahui nama Bapa dan memanggilnya dalam doa kita

Footnote:

  • [f1] : J.D. Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I, Yayasan Bina Kasih OMF, 1994, hal 39
  • [f2] : Vol III, Grand Rapids Michigan, 1978, p.373
  • [f3] : Loc.Cit., Iman Kristen, hal 39
  • [f4] : Nusa Indah Ende Flores, 1978, hal 30


Pdt. Teguh Hindarto, MTh.
Buletin NAFIRI YAHSHUA Vol 34 2007
 

bottom
top

bottom

Powered by Joomla!. Design by Vortex Multi-Colour Valid XHTML and CSS.