Kamis, 09 September 2010  |  
Dan berfirmanlah Elohim kepada Musa kataNya: Akulah YAHWEH; dan Aku menampakkan diri kepada Abraham, kepada Ishak dan kepada Yakub sebagai Yang Maha Kuasa (el shaddai) dan dengan nama YAHWEH Aku tidak menyatakan diriku sendiri kepada mereka; dan juga Aku membuat perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberi mereka tanah Kanaan, yaitu tanah kediaman mereka sekarang ini (Kel 6:2-4)
   KESAKSIAN DETIL
08-10-2007
Menjelang Pernikahan
 
 
Bagi kebanyakan orang, pernikahan adalah salah satu momen yang paling berkesan karena merupakan peristiwa penting yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Begitu pula dengan saya. Setelah melewati proses berteman, berpacaran dan bertunangan selama 5 tahun, akhirnya saya dan tunangan sepakat mengambil keputusan untuk menikah pada tanggal 19 Februari 2007.

Perlu diketahui dalam penanggalan Jawa, tanggal 19 Februari 2007 masih termasuk bulan Suro. Sehingga pada waktu itu sempat adabeberapa kerabat yang menyarankan untuk mengundur tanggal pernikahan setelah bulan Suro. Akan tetapi kami tetap mengambil tanggal 19 untuk menikah karena kami yakin bahwa semua hari adalah baik.

Saya dan tunangan dilahirkan dari keluarga kristiani, namun kami berdua baru mendalami tentang akar iman yang sesungguhnya kurang lebih setahun terakhir. Dari pengetahuan yang sebetulnya lama namun masih baru bagi kami berdua, kami mendapati bahwa pengeajaran yang benar, yang dari Bapa sendiri, adalah yang berbasiskan dari akar Ibrani. Karena itulah maka kami berdua dengan dukungan keluarga memutuskan untuk melaksanakan upacara pernikahan yang bernafaskan Mesianik.

Karena di gereja saya, GIA Muja Muju Yogyakarta, belum pernah melakukan upacara pernikahan dengan memakai tata ibadah Mesianik (walaupun sudah mengakui Bapa Yahweh), maka kami meminta bantuan Pdt. Teguh Hindarto, MTh dari Kehilat Nafiri Yahshua Kebumen untuk memimpin upacara pernikahan kudus (Ha Nisuin) tersebut, dengan tujuan untuk memperkenalkan upacara pernikahan MEsianik kepada kaum kerabat ang masih belum mengenal tentang Bapa Yahweh dan pengajaran-pengajaran Mesianik.

Seperti pasangan calon mempelai yang lain, saya dan tunangan serta keluarga juga ingin melakukan yang terbaik supaya pada hari H nanti semua bisa berjalan dengan lancer. Tidak hanya persiapan secara jasmani, saya pun secara khusus melakukan doa puasa sebulan sebelum menikah untuk mempersiapkan mental, karena saya menyadari bahwa menikah adalah suatu langkah yang besar. Saya tidak ingin main-main. Saya ingin Bapa sendiri ikut hadir pada saat saya menikah dan saya ingin keluarga saya kelak bisa menjadi berkat dan teladan bagi orang lain.

Dibalik semua rencana yang baik, ada suatu rencana jahat dai si Iblis yang tidak suka terhadap segala sesuatu yang berjalan dengan baik. Tepat pada tanggan 14 Februari 2007, 5 hari sebelum hari pernikahan saya, saya dan adik bermaksud untuk mencetak booklet liturgy pernikahan. Kami berangkat sekitar pk 15.00 WIB dengan mengendarai sepeda motor. Kebetulan saya yang mengemudikan. Karena jalanan ramai dan kondisi tubuh yang agak lelah akibat sibuk mempersiapkan pernikahan, saya mengemudikan motor tidak terlalu kencang. Begitu tiba di pertigaan Janti lampu lalu lintas berwarna merah, dan kendaraan saya berhenti paling depat. Ketika lampu sudah hijau saya melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba dari arah belakang sebelah kanan ada sepeda motor box menyalip saya. Bagian depan motor itu memang tidak menyenggol saya, tetapi saya membatin bagian belakangnya pasti mengenggol saya karena memang jaraknya sangat dekat.

Dan memang benar. Box-nya menyenggol stang kemudi motor saya. Saya sudah berusaha menjaga keseimbangan tetapi ternyata benturannya cukup keras sampai sepeda motor saya berputar. Kami jatuh di tengah-tengah jalan yang ramai. Tetapi sesaat sebelum jatuh saya sempat berkata dalam hati “Bapa YHWH tolong saya!”

Sebetulnya saya sudah pasrah mengingat kondisi jalan yang sangat ramai, apalagi pada waktu itu baru saja lampu hijau menyala. Saya jatuh tertimpa motor ke arah kanan. Pada saat itu saya sempat melihat ke belakang, ada banyak mobil melaju ke arah saya. Anehnya, mobil-obil itu terlihat seperti slow motion di mata saya. Mereka bergerak lambat sekali, padahal lalu lintasnya padat. Semua kendaraan seolah saling berdempat satu dengan yang lain. Apalagi pada saat lampu hijau semua seakan berebut untuk melaju terlebih dahulu. Tetapi pada saat saya jatuh, kendaraan-kendaraan itu melambat hingga nyaris memacetkan jalan. Sepertinya Bapa YHWH menang memberi kesempatan kepada orang-orang di sekitar jalan untuk menolong saya dan menghindarkan saya dari bahaya yang mengerikan.

Yang saya herankan, tidak satu pun dari beberapa anggota polisi yang ada di pos jaga Janti itu yang melihat adanya kecelakaan dan si penabrak dengan santainya melaju seolah tidak terjadi apa-apa. Sungguh hal yang aneh. Padahal selang beberapa saat terjadi kecelakaan di tempat saya mengalami kecelakaan tersebut. Akan tetapi polisi melihat kejadian itu bahkan sampai mengejar pelaku yang melarikan diri.

Saya dituntun beberapa orang untuk menepi dan mereka membantu mengevakuasi sepeda motor saya yang sudah bengkok-bengkok tidak karuan. Saat itu saya masih bisa berjalan .Saya merasa baik-baik saja walau pada saat jatuh saya sempat terseret. Saya yakin bahwa saya tidak terluka karena tidak ada pakaian yang robek. Apalagi adik saya juga tidak terluka. Setelah tiba di trotoar saya mengecek anggota tubuh saya, kalau-kalau ada yang luka. Dan ternyata saya mendapati luka-luka di beberapa tempat yaitu di kedua lutu, kedua tangan, siku dan bahwan di dagu kanan. Pada saat itulah saya baru merasa sakit dan nyaris pingsan. Beberapa orang menyarankan untuk berobat tapi saya cuma ingin pulang.

Saya menunggu di trotoar sampai adik saya yang seorang lagi datang menjemput saya. Saat itu huja turun deras dan luka-luka saya terasa berdenyut. Orang-orang yang melihat saya Cuma bisa saling berbisik saat melihat darah mulai mengalir dari luka-luka saya. Saya berkata dalam hati, “Tuhan tolong saya. Semua terserah rencana-Mu. Kalau Engkau inginkan pernikahan saya berlangsung 5 hari lagi, bagaimanapun keadaannya semua pasti bsia berjalan”. Pada saat menunggu adik saya, ada seorang ibu mendekati saya dan menyarankan untuk memberikan sesaji ditempat kejadian dan mengunjungi makam leluhur sebelum pernikahan. Saya hanya bisa tersenyum saja sambil menahan rasa sakit luka saya.

Setiba di rumah, orang tua sudah menunggu dengan cemas. Ayah, ibu dan adik-adik segera melakukan pertolongan pertama. Mereka membersihkan luka-luka saya dengan air hangat dan membubuhinya dengan getah pohon yodium. Ya, saya tidak berobat ke rumah sakit manapun. Saya hanya memakai obat dar Tuhan ditambah dengan iman bahwa Tuhan pasti akan menyembuhkan saya. Tapi jangan ditanya, getah itu sangat perih di luka saya. Saya sampai hampir pingsan karena tidak kuat menahan perih.

Beberapa orang menyangsikan saya akan sembuh kurang dari 5 hari karena memang luka saya cukup basah.Tapi disetiap tefilah saya selalu berdoa bahwa saya pasti sembuh. Di malam pertama setelah kecelakaan, saya memang sempat demam dan luka-luka saya bengkak. Tapi saya tidak mau mengeluh. Saya yakin pasti sembuh.

Setiap hari ayah mengoleskan obat ke luka saya 2 kali sehari. Walau harus sambil menangis menahan perih, saya tdak menolak untuk diobati. Dan berkat pertolongan Tuhan, tanggal 16 Februari saya sudah bisa ke gereja untuk berlatih lagu-lagu pujian meski sambil terpincang-pincang.

Sekali lagi Iblis tidak suka terhadap rencana pernikahan saya. Pada tanggal 18 Februari pagi, Pdt. Teguh mengirim SMS kepada saya bahwa beliau pun mengalami kecelakaan kecil. Kuku jempol kaki kanannya tercabut pada saat mengeluarkan sepeda motor. Padahal sorenya kami bersepakat bertemu untuk melakukan gladi resik upacara pernikahan saya. Kami Cuma bisa saling mendoakan supaya semua bisa berjalan dengan lancar. Rencana jahat Iblis belum selesai sampai disitu saja. Pada sore itu terjadi angin Puting Beliung di Yogyakarta yang cukup hebat, yang hampir menghambat beberapa rekan yang terlibat dalam dalam proses pernikahan saya. Tapi Puji Tuhan, sore itu semua bisa hadir untuk melakukan gladi resik.

Pada tanggal 18 Februari malam, saya sama sekali tidak bisa tidur. Saya memikirkan apakah semua akan berjalan dengan baik? Saya juga mulai bertanya-tanya, akankah saya bisa menjadi istri yang baik? Dan apakah keutusan menikah adalah keputusan yang terbaik bagi say adan tunangan saya? Namun saya berusaha mengimani bahwa segala sesuatu yang sudah, sedang dan akan terjadi adalah rencana Tuhan dan Dia sendiri yang ikut campur tangan dalam setiap pergumulan saya. Di sela-sela pergumulan itu, saya sempat-sempatnya berdoa suapa bekas luka saya mengelupas sehingga keesokan hari,perias tidak perlu memakai dempul yang super tebal untuk menutupi bekas luka di wajah saya. Ternyata Tuhan punya selera estetetik yang baik. Doa saya terkabul. Bekas luka itu mengeluas setelah saya korek-korek sedikit. Dan besoknya saya bisa dirias seperti mempelai perempuan pada umumnya.

Setelah melewati beberapa ujian, akhirnya pada tanggal 19 Februari 2007 pukul 10.00 WIB, saya dan tunangan bisa dipersatukan menjadi pasangan suami istri melalui proses pernikahan Mesianik yang sakral dan hikmat (menurut kerabat yang hadir pada waktu itu). Kami sengaja tidak mengadakan pesta, hanya upacara pernikahan dan makan siang di rumah untuk kerabat dan sahabat.

Saat itu cuaca di rumah cerah berawan. Tapi menurut kesaksian beberapa saudara dan teman, tidak jauh dari rumah kami turun hujan yang cukup deras karena bulan Februari memang masih dalam musim hujan. Lagi-lagi Tuhan turut campur tangan. Kebetulan ayah saya juga melakukan doa puasa dan hari itu ayah meminta “Tiang Awan” supaya tidak terlalu panas dan tidak turun hujan mengingat acara dilakukan diluar rumah. Puji Tuhan semua indah pada waktunya karena Bapa YHWH yang kita sembah adalah YHWH Nissi, YHWH Rapha, dan YHWH Yireh bagi mereka yang berseru memanggil nama-Nya. Dan kamipun bersukacita karena kami telah membuktikan kepada kerabat bahwa apa yang mereka takutkan/kuatirkan akan terjadi sesuatu kalau mengadakan acara pernikahan di bulan Suro adalah tidak benar.

Kini pernikahan kami sudah berjalan 8 bulan. Dan saat ini kami sedang menantikan kelahiran putera pertama kami karena saya langsung mengandung setelah menikah. Kami percaya bahwa anak ini adalah berkat dari Tuhan, sesuai dengan salah satu berkat pada saat kami menikah, “Diberkatilah buah kandunganmu …” (Kel 28:4). Walau sebelumnya kami masih ingin menunda untuk memiliki momongan, namun kami tidak menyesali pemberian Tuhan ini karena pasti ada rencana Tuhan yang jauh lebih indah dibandingkan dengan apa yang sanggup kami pikirkan. Amin.

Eunike Dyah Eko Wuri.
Yogyakarta.
 
Komentar terhadap Artikel ini dapat Anda kirim ke komentar@messianic-indonesia.com
Jangan lupa untuk mencantumkan Judul Artikel ini dalam komentar Anda

Anda juga dapat berpartisipasi dalam situs ini
dengan mengirimkan Artikel anda ke redaksi@messianic-indonesia.com
--- ---
Shalom Alaika !!!
Selamat datang,

selamat bergabung di komunitas Messianic Indonesia.
Semoga website ini dapat menjadi berkat bagi saudara.
©2007 Messianic-Indonesia Media Team - All Rights Reserved  
Terimakasih Bapa atas kesempatan yang telah Engkau berikan untuk membangun Situs ini.
Pakailah Situs ini untuk memasyurkan dan memuliakan nama-Mu. Amin

Saran dan Kritik:
redaksi@messianic-indonesia.com