Kamis, 09 September 2010  |  
Nama Yahweh adalah menara yang kuat, kesanalah orang benar berlari dan menjadi selamat (Ams 18:10)
   KESAKSIAN DETIL
03-01-2010
YHWH BAPA SURGAWI MENGEMBALIKAN NYAWA ISTRIKU
 
 
(Sebuah Testimoni)

Oleh:
Teguh Hindarto


Sebagai wujud ucapan syukur, saya menuliskan kesaksian ini. Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih atas dukungan doa dan biaya yang telah diberikan oleh teman-teman dan kaum keluarga yang tanggap atas persoalan saya.

Tgl 7 November 2009 kurang lebih waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 saat saya dan istri saya berbincang-bincang seperti biasanya, tiba-tiba istri saya tergesa ke kamar mandi. Muntah-muntah...(mendengar suaranya saya miris). Istri saya sedang hamil 2 bulan. Beberapa minggu sebelumnya masuk rumah sakit karea dehidrasi akibat muntah-muntah terus menerus. Tiba-tiba istri keluar dari kamar mandi dalam keadaan pucat seperti mayat. keringat sebesar jagung keluar dari sekujur tubuh. Terkulai lemas setengah pingsan.

Saya memanggil tetangga sebelah, seorang guru ngaji wanita yang usianya sebaya saya. Dia tetangga saya (waktu istri saya masuk rumah sakit yang pertama sebelum ini, diapun yang mengantar dan mendampingi). Saya dan guru ngaji tersebut meyakinkan istri saya yang menjerit-jerit kesakitan dan berteriak-teriak, agar dia mau dibawa ke rumah sakit. Istri saya bersikeras menolak dengan alasan takut biaya.

Saya akhirnya dapat meyakinkan istri saya agar berangkat ke rumah sakit. Dia sudah setengah pingsan. Saya berusaha gendong (wah, saya rupanya tidak seperkasa dulu waktu pacaran. Saya tidak mampu menggendong seperti dulu) dengan sekuat tenaga dengan ditemani 3 orang. Kami akhirnya berangkat ke rumah sakit terdekat.

Di ruang IGD, istri saya terus menerus berteriak kesakitan. Dokter jaga dan suster cukup direpotkan. Ditengah-tengah kepanikan, salah satu doter jaga memanggil saya. Dia katakan bahwa istri saya harus operasi malam itu juga. Operasi...? saya tidak pernah berpikir kalau malam itu harus terjadi operasi Saya tanyakan, kenapa? ternyata janin istri saya berada di luar rahim. Janin pecah dan terjadi perdarahan. Kondisi istri saya drop dan melemah. Saya diminta tidak memberitahu pada istri saya apa yang terjadi.

Setelah saya menyetujui operasi (tidak ada uang sepeserpun saya bawa dan tidak ada biaya untuk operasi), saya diminta mengurus pasokan darah di PMI yang jaraknya 400 mtr dari rumah sakit. Ya ampun...kondisi genting demikian, ternyata saya harus menunggu 1 jam untuk memperoleh proses darah yang diperlukan. Kasihan istri saya menunggu. Wajahnya membengkak, perutnya membesar. Jumlah pasukan infus sudah sangat banyak dipasok malam itu, lebih dari 10 infus. Saya tenangkan dia. Dia bertanya selalu dengan suara yang semakin melemah, "kenapa saya dioperasi?" "Apakah janinku baik-baik saja?" Saya tidak meladeni pertanyaannya. Saya hanya katakan, "semua baik-baik saja. kamu harus operasi kecil"

Jam 2 malam. Saya dan guru ngaji berlari mengikuti tubuh istri saya yang didorong menuju ruang operasi. Kami menunggu dengan cemas. Tiba-tiba pintu ruang operasi dibuka. Seorang dokter memanggil saya. Dia berkata, "Ibu, tidak layak untuk dioperasi karena hb hanya 4 padahal seharusnya jika operasi batas minimal hb harus 6". Saya katakan padanya, "bukankah saya sudah diminta memesan 8 kantong darah?" Dia menjawab, "benar, tapi hb ibu tidak naik. kemungkinan operasi ini gagal. Anda harus siap silahkan tanda tangani berkas ini". Saya tidak melihat dan membaca apa isi berkas tersebut. Pikiran saya gelap beberapa detik. Apakah saya akan ditinggal selamanya olrh istri saya malam ini. Kemudin saya berusaha tega. saya ambil berkas. Tanpa membaca isinya, saya tanda tangani segera. Saya katakan pada dokter, "tolng istri saya sebisa dokter. saya akan berdoa". Dia menjawab, "Insyaallah".

Di ruang tunggu, saya dan guru ngaji menanti dengan harap dan cemas. Saya sms semua orang yang saya kenal (jemaat, teman, relasi) agar bantu saya berdoa untuk keselamatan istri saya. Saya pun berdoa dan menyeru YHWH RAPHA berulang kali, terus menerus saya mengucapkan pula DARAH YAHSHUA HA MASHIAH (Yesus Sang Mesias) mengalir dan memompa darah istri saya.

Malam ini terasa panjang dan menegangkan. Ketakutan, kebimbangan, kepanikan, kesedihan bercampur dengan pengharapan, keyakinan, iman. Saya berharap ini sebenarnya hanya mimpi buruk tapi ternyata ini kenyataan yang sedang menimpa diri saya.

Jam 3 pagi, pintu ruang operasi dibuka. Seorang dokter wanita membuka pintu. Saya langsungberlari dan bertanya, "bagaimana dokter, selamatkah?" Dia menjawab pendek, "insyaallah". Ya ampun...tidak adakah jawaban lain yang memberi kepastian? Dia meminta saya untuk mengambil pasokan darah lagi. 2 kali saya berlari sampai kaki saya seret karena lelah. Sambil berlari saya katakan, "Aku cinta Engkau YHWH, Aku cinta Engkau Yahshua, Aku mencintai istriku, jangan panggil sekarang".

Jam 4 pagi, pintu ruang operasi dibuka. Dokter wanita tadi membuka pintu. Saya langsung berlari dan bertanya, "bagaimana dokter, selamatkah?" Dia menjawab pendek, "alhamdulillah". Saya cukup bernafas lega, "Halelu-Yah". Saya diminta untuk mengambil peralatan wanita yang diperlukan. Sayapun kembali kerumah yang jaraknya hanya 1 km dari rumah sakit, dengan ditemani suami guru ngaji tersebut.

Setelah selesai operasi, istri saya dibawa ke ruang ICU (dokter menduga bahwa istri tidak akan selamat. Jika ternjadi kematian, tinggal diurus saja). Saya tertidur di bangku halaman lorong rumah sakit. Saya bersyukur pada Bapa Surgawi yang telah meloloskan istri saya dari maut. Jam 6 pagi istri saya sadr. para suster kaget dan tidak menduga. kemudian mereka mengadakan perawatan dan pemulihan.

Setelah 7 hari berada di rumah sakit dan kembali pulang, saya mendapatkan kesaksian dariistri saya. Bahkan saat kontrol kesehatan pada salah satu dokter yang mengoperasi, diapun memberi kesaksian yang meneguhkan.

Berikut kesaksian istri saya:

Pada saat dia dalam keadaan antara hidup dan mati, dia mendengr suara yang memerintahkan untuk memanggil nama Tuhan. Suara itu berkata, "panggilah YHWH (YAHWEH) Rapha" (Yahw yang menyembuhkan) berulang kali". Lalu suara itupun berkata, "ucapkanlah Shema Yishrael, YHWH Eloheinu YHWH Ekhad. Weahavta et YHWH Eloheika bekol levaveka uvekol nafsyeka uvekol meodeka" (Ulangan 6:4-5). Istri saya mengucapkan apa yang diperintahkan. Dan dia melihat tangan yang besar (yad gadol) menggenggam dia (seperti adegan film kera sakti digenggam tangan budha). Lalu terdengarlah suara berkata, "TENANG, JANGAN TAKUT, KAMU SELAMAT!".

Lalu istri saya melihat ada mahluk-mahluk berpakaian hitam yang berusaha merebut dirinya dan memasukkan dalam jurang dalam berisi api, namun ada sejumlah mahluk berpakaian terang menarik istri saya. Istri saya melihat roh orang-orang yang mendoakan dirinya seperti kilatan cahaya yang menopang dan menyerang mahluk-mahluk berpakaian hitam tersebut bersama mahluk-mahluk berpakaian putih (malaikat).

Dalam suasana tersebut, istri saya melihat banyak orang yang berdoa dengan cara mereka sendiri2 (ada yang Islam, Kristen). Istri saya bertanya pada Yahshua ha Mashiah, "lho khoq mereka yang berdoa dengan sholat dan memanggil nama Allah, engkau dengar? Juga mereka yang beragaa Kristen berdoa dengan memanggil Allah Bapa pun engkau dengar?" Dia hanya menjawab, "karena mereka tidak tahu. Ketulusan mereka saja dalam berdoa yang membuatku mendengar doa mereka untukmu".

Istri saya pun melihat diri saya, anak saya yang bersedih dan belum siap untuk ditinggalkan. Dan memang saat saya berdoa, saya bukan hanya berdoa memohon agar Tuhan menyelamatkan istri saya, namun saya katakan pada istri saya dalam doa agar dia tidak pulang dan meninggalkan saya dan anak saya. Saya masih membutuhkan dirinya untuk menemani tugas pelayanan dan visi yang akhir-akhir ini kami geluti.

Ternyata, apa yang dialami istri saya (mengucapkan nama Tuhan, YHWH Rpha, Shema Yishrael) terdengar dalam ruang operasi. Mengherankan, mengingat istri saya dibius. Mereka saling berpandangan. Bahasa apa itu? Beberapa doter bertanya pada dokter wanita yang memimpin operasi (dialah yang memberi kesaksian pada istri saya), bahasa apa itu? Dokter Katholik ini sedikit mengetahui Kitab Suci dan menjawab, "setahu saya, itu nama Tuhan orang Israel dalam Kitab Perjanjian Lama". Salah seorang dokter berkata, "berarti ibu ini mungkin penganut agama orang Israel ya?"

Yang menarik, salah satu dokter yang sempat menangani di ruang IGD berkata pada dokter wanita ini, bahwa dirinya merasa tangannya ada yang menuntun. Dan para dokter di ruang operasi yang semula ragu-ragu mengoperasi tiba-tiba merasa ada suatau hadirat yang memberikan ketenagan dan kekuatan. dokter wanita ini akhirnya mengingatkan teman-temannya untuk segera mengoperasi


Dari kesaksian ini ada beberapa catatan yang ingin saya berikan sbb:

1. Saya semakin diteguhkan bahwa apa yang saya jalani selama ini, memanggil nama YAHWEH sebagai Tuhan dan Bapa Surgawi di dalam Yahshua Sang Mesias (Yesus Kristus) adalah jalan yang benar, sekalipun komunitas Kristen pada umumnya merasa bahwa pemahaman ini sebagai heretik. Apa yang saya tuliskan dalam berbagai artikel, seminar, buku, malam hari itu diteguhkan kebenarannya. Dan saya ingin Anda yang membaca testimoni inipun diberkati sebagaimana saya diberkati oleh nama-Nya dan apa yangsaya alami.

2. Pemahaman saya mengenai "Siapakah Sesamaku Manusia" semakin diteguhkan. Dalam Lukas 10 Yahshua mengajarkan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Saat ada seorang saudagar kaya dirampok. Tidak ada seorangpun yang lewat (baik Ahli Torat, Imam) yang menolong kecuali orang samaria yang menurut pandangan orang Yahudi adalah orang bodoh dari Sikhem. Dari kisah ini kita mngetahui bahwa yang disebut sesama kita bukanlah semata-mata mereka yang satu agama, satu keyakinan, satu prinsip satu visi, satu suku. Terbukti, malam itu, yang menolong saya, mendampingi saya bahkan menawari sejumlah uang (walau kecil) dia terlebih dahulu. Bukan orang-orang yang memiliki finasial tinggi yang bertindak cepat menolong saya, melainkan seorang guru ngaji yang dengan tulus turut bersedih dan berdoa atas kondisi istri saya. Dia berdoa, "Ya Allah, kiranya Tuhannya Ibu Teguh menolong Ibu Teguh". Ini pun doa-doa tetangga muslim saya.

3. Kualitas cinta kasih saya terhadap istri dan anak semakin diperbarui. Saya merasa Tuhan telah memberikan kesempatan hidup lagi pada istri saya untuk ketiga kalinya setelah kecelakaan di Yogyakarta tahun 1995, kecelakaan di Purworejo tahun 2008). Saya sangat menghargai itu sebagai kemurahan yang diberikan Tuhan pada saya.

Demikian testimoni ini saya buat. Kiranya apa yang saya sampaikan dalam testimoni ini boleh menjadi sesuatu yang memberi inspirasi dan dorongan untuk lebih dekat (qarov) dan melekat (davaq) dengan Tuhan Pencipta Langit dan Bumi dan menghargai kehidupan yang dipercayakan pada diri kita, untuk melayani Tuhan dan berbagi kebajikan terhadap sesama manusia.

Baruk Attah YHWH Eloheinu ba Mashiakh Yahshua asyer natan ha shalom we ha khayim leolam waed, Amen!

Diberkatilah YHWH Tuhan kami di dalam Mesias Yahshua yang memberikan keselamatan dan kehidupan, selamanya, Amin!

 
Komentar terhadap Artikel ini dapat Anda kirim ke komentar@messianic-indonesia.com
Jangan lupa untuk mencantumkan Judul Artikel ini dalam komentar Anda

Anda juga dapat berpartisipasi dalam situs ini
dengan mengirimkan Artikel anda ke redaksi@messianic-indonesia.com
--- ---
Shalom Alaika !!!
Selamat datang,

selamat bergabung di komunitas Messianic Indonesia.
Semoga website ini dapat menjadi berkat bagi saudara.
©2007 Messianic-Indonesia Media Team - All Rights Reserved  
Terimakasih Bapa atas kesempatan yang telah Engkau berikan untuk membangun Situs ini.
Pakailah Situs ini untuk memasyurkan dan memuliakan nama-Mu. Amin

Saran dan Kritik:
redaksi@messianic-indonesia.com